Haimalang – Asap tipis mengepul dari tungku pembakaran sate di sebuah warung sederhana di Jalan Ade Irma Suryani, Kota Malang. Aroma daging yang dibakar perlahan bercampur dengan bumbu rempah khas, mengundang siapa saja yang melintas untuk menoleh sejenak.
Bagi sebagian warga Malang, pemandangan itu bukanlah hal baru. Selama puluhan tahun, Warung Sate dan Gule Bang Saleh telah menjadi salah satu tujuan kuliner yang tidak pernah kehilangan penggemarnya.
Di tengah banyaknya usaha kuliner yang datang dan pergi, Sate Bang Saleh tetap bertahan. Bukan hanya satu atau dua tahun, melainkan lebih dari lima dekade.
Di balik ketahanan sebuah usaha yang telah melintasi generasi tersebut, terdapat kisah tentang kerja keras, konsistensi, dan nilai sederhana yang masih dijaga hingga hari ini: kerukunan.
Salah satu sosok yang kini ikut menjaga warisan tersebut adalah Laily Fitriyah Liza Min Nelly, yang akrab disapa Nelly.
“Kalau usaha keluarga itu yang paling penting bukan hanya jualannya, tapi bagaimana kita bisa tetap rukun dan saling mendukung,” ujar Nelly.
Bagi Nelly, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari jumlah pelanggan atau omzet yang diperoleh setiap hari. Ada hal lain yang menurutnya jauh lebih penting, yaitu menjaga kebersamaan agar usaha dapat terus berjalan dalam jangka panjang.
Sate Bang Saleh Malang Berawal dari Warung Tenda
Perjalanan Sate Bang Saleh dimulai pada tahun 1974. Saat itu, Saleh merintis usaha kuliner dengan berjualan menggunakan warung tenda di kawasan Kasin, Kota Malang.
Dengan peralatan sederhana dan tekad yang kuat, usaha tersebut perlahan mulai dikenal masyarakat. Pelanggan berdatangan karena cita rasa sate dan gulai yang khas, berbeda dengan kebanyakan warung sate lainnya.
Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 1984, usaha tersebut menempati lokasi permanen di Jalan Ade Irma Suryani yang hingga kini menjadi rumah bagi Sate Bang Saleh.
Meski zaman telah berubah, banyak hal tetap dipertahankan. Resep keluarga yang menjadi identitas utama warung ini masih dijaga dengan ketat agar cita rasanya tidak berubah.
“Kami berusaha menjaga kualitas dan rasa yang sudah dikenal pelanggan sejak dulu. Itu yang selalu kami pegang sampai sekarang,” kata Nelly.
Menjaga Warisan, Menjaga Kepercayaan
Mempertahankan usaha selama lebih dari 50 tahun tentu bukan perkara mudah.
Persaingan kuliner semakin ketat. Tren makanan terus berubah. Generasi pelanggan pun silih berganti.
Namun, Sate Bang Saleh tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Malang.
Banyak pelanggan yang datang bukan hanya untuk menikmati sate atau gulainya, tetapi juga untuk bernostalgia dengan rasa yang telah mereka kenal sejak puluhan tahun lalu.
Sebagian datang bersama keluarga. Sebagian lagi membawa anak dan cucu mereka untuk mengenalkan kuliner yang dulu menjadi favorit orang tuanya.
Bagi Nelly, kepercayaan pelanggan merupakan aset terbesar yang harus dijaga.
“Kami bersyukur sampai sekarang masih banyak pelanggan yang setia. Ada yang dulu datang waktu masih kecil, sekarang datang lagi membawa keluarganya,” tuturnya.
Kepercayaan itulah yang membuat keluarga besar Bang Saleh berusaha mempertahankan standar kualitas yang sama dari waktu ke waktu.
Mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga pelayanan kepada pelanggan, semuanya dilakukan dengan perhatian yang sama seperti ketika usaha ini pertama kali dirintis.
Ribuan Tusuk Sate Setiap Hari
Popularitas Sate Bang Saleh bukan tanpa alasan. Salah satu keunggulan yang membuat pelanggan terus kembali adalah proses pengolahan daging yang dilakukan dengan bumbu rempah khas sebelum dibakar.
Teknik tersebut membuat cita rasa daging lebih meresap dan tetap nikmat bahkan sebelum disiram bumbu kacang.
Selain sate kambing yang menjadi menu andalan, pelanggan juga dapat menikmati gulai kambing, sate ayam, krengsengan, hingga nasi kebuli.
Dalam sehari, jumlah sate yang terjual bisa mencapai hampir 2.000 tusuk.
Angka tersebut menjadi bukti bahwa kuliner legendaris ini masih memiliki daya tarik kuat di tengah menjamurnya berbagai konsep kuliner modern.
Namun bagi Nelly, pencapaian tersebut tidak membuat mereka berpuas diri.
Menurutnya, mempertahankan kepercayaan pelanggan jauh lebih sulit dibandingkan mendapatkan pelanggan baru.
Karena itu, seluruh keluarga berupaya menjaga kualitas yang telah menjadi identitas Sate Bang Saleh selama puluhan tahun.
Kerukunan sebagai Modal Utama
Di balik ramainya pelanggan dan panjangnya perjalanan usaha, Nelly percaya ada satu hal yang menjadi fondasi utama keberhasilan Sate Bang Saleh.
Bukan modal besar. Bukan pula strategi pemasaran yang rumit. Melainkan kerukunan.
Menurutnya, usaha keluarga akan sulit berkembang jika tidak dibangun di atas rasa saling percaya dan saling mendukung.
Ketika setiap anggota keluarga memahami peran masing-masing dan bekerja dengan tujuan yang sama, berbagai tantangan akan lebih mudah dihadapi.
“Kalau ada masalah, ya diselesaikan bersama. Kalau ada pekerjaan, ya dikerjakan bersama. Itu yang membuat usaha bisa terus berjalan sampai sekarang,” ungkapnya.
Nilai-nilai itulah yang terus diwariskan kepada generasi penerus agar usaha yang telah dirintis sejak 1974 ini tetap bertahan di masa mendatang.
Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, Sate Bang Saleh membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari hal-hal besar.
Terkadang, keberhasilan justru tumbuh dari sesuatu yang sederhana namun dijaga dengan konsisten selama bertahun-tahun: kerja keras, kejujuran, komitmen, dan kerukunan.
Dan selama bara api masih menyala di tungku pembakaran sate itu, kisah tentang perjuangan keluarga Bang Saleh akan terus hidup sebagai bagian dari sejarah kuliner Kota Malang.