Haimalang – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menghadirkan berbagai peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Di satu sisi, teknologi membuka akses informasi yang luas dan mempercepat proses pembelajaran. Namun di sisi lain, derasnya arus globalisasi juga berpotensi mengikis pemahaman generasi muda terhadap budaya dan kearifan lokal. Dalam artikel ini membahas etnopedagogi digital yang mengajarkan siswa atau mahasiswa untuk belajar menggunakan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang hidup di masyarakat.
Menjawab tantangan tersebut, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) mengembangkan pendekatan pembelajaran berbasis etnopedagogi digital. Metode ini menggabungkan pemanfaatan teknologi dengan nilai-nilai budaya lokal agar mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan digital yang baik, tetapi juga tetap memahami identitas dan karakter bangsanya.
Dosen Pendidikan Geografi Unikama, Dr. Yuli Ifana Sari, M.Pd., menjelaskan bahwa pendidikan modern harus mampu menyeimbangkan penguasaan teknologi dengan pelestarian budaya.
“Pendidikan modern tidak boleh melepaskan mahasiswa dari akar budayanya. Melalui etnopedagogi digital, teknologi tidak mengikis tradisi, melainkan menjadi alat untuk menghidupkan dan melestarikan nilai-nilai luhur dalam proses pembelajaran,” ujarnya pada 9 Juli di Unikama.
Baca juga Yayasan PPLP Unikama Perkuat Peran Kampus Lewat Pusat Kajian Konstitusi dan Demokrasi
Etnopedagogi digital berangkat dari pemanfaatan kearifan lokal sebagai sumber belajar. Berbagai nilai yang hidup di tengah masyarakat seperti gotong royong, kepedulian lingkungan, tanggung jawab sosial, toleransi, kesederhanaan, dan penghormatan kepada orang tua dikemas kembali melalui media yang akrab dengan generasi muda.
Dalam praktiknya, mahasiswa diajak memanfaatkan berbagai perangkat digital, mulai dari pembuatan konten edukatif, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), podcast, hingga platform pemetaan digital untuk mengangkat dan menyebarluaskan nilai-nilai budaya yang berkembang di masyarakat.
Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter. Mahasiswa didorong untuk memahami bagaimana nilai-nilai lokal dapat menjadi solusi dalam menghadapi berbagai persoalan sosial dan lingkungan di era modern.
Dosen PGSD Unikama, Dr. Arnelia Dwi Yasa, S.Pd., M.Pd., menambahkan bahwa etnopedagogi digital mengubah pola pembelajaran dari sekadar menghafal teori menjadi pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan berdampak.
“Mahasiswa tidak hanya belajar memahami suatu wilayah atau budaya, tetapi juga diajak untuk peduli, menjaga, menghargai, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan serta masyarakat di sekitarnya,” jelasnya.
Melalui kombinasi riset etnografi sederhana dan teknologi digital seperti Google Earth maupun infografis interaktif, mahasiswa dapat memetakan potensi budaya sekaligus mengidentifikasi berbagai tantangan lingkungan yang ada di daerahnya.
Pendekatan tersebut membantu mahasiswa memahami kondisi nyata di lapangan sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan dan budaya lokal. Dengan demikian, pembelajaran tidak lagi terbatas di ruang kelas, tetapi terhubung langsung dengan kehidupan masyarakat.
Etnopedagogi digital juga menjadi jembatan antara teori akademik dengan praktik pengabdian masyarakat. Mahasiswa dibekali kemampuan untuk merancang program berbasis digitalisasi desa yang tetap menghormati adat istiadat dan struktur sosial masyarakat setempat.
Bekal tersebut dinilai penting sebelum mahasiswa terjun dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN), Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), maupun berbagai kegiatan pengabdian lainnya.
Sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis proyek atau Project-Based Learning (PJBL), mahasiswa saat ini mengembangkan berbagai karya kreatif yang memadukan teknologi dan budaya lokal. Beberapa di antaranya berupa video dokumenter tentang pahlawan lokal, digitalisasi rute budaya desa, hingga komik digital interaktif yang mengangkat nilai toleransi dan kesederhanaan.
Berbagai proyek tersebut tidak hanya menjadi media pembelajaran, tetapi juga sarana pelestarian budaya yang dapat diakses lebih luas oleh masyarakat melalui platform digital.
Melalui penerapan etnopedagogi digital, Unikama menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak harus menghilangkan identitas budaya. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkuat karakter, melestarikan nilai-nilai lokal, serta menciptakan generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.