Home NewsRupiah Tembus Rp18.000, Istana Pastikan Fundamental Ekonomi Kuat dan Bantah Rumor Reshuffle

Rupiah Tembus Rp18.000, Istana Pastikan Fundamental Ekonomi Kuat dan Bantah Rumor Reshuffle

by Redaksi Hai Malang
0 comments

JAKARTA – Istana Kepresidenan meminta masyarakat dan pelaku pasar untuk tidak panik menyikapi dinamika pasar keuangan domestik. Penegasan ini disampaikan menyusul pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menembus level psikologis baru di angka Rp18.003 hingga Rp18.039 per Dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026).

Menteri Sekretariat Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa meski mata uang Garuda sedang berada di bawah tekanan besar akibat faktor geopolitik global, kondisi makroekonomi Indonesia secara umum masih berada dalam jalur yang aman dan stabil.

Mensesneg

Menteri Sekretariat Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi.

“Kita harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi kita, yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi kemudian dari inflasi yang masih terjaga, insyaallah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat,” ujar Prasetyo Hadi dalam keterangan pers di Ruang Wartawan Istana Kepresidenan Jakarta.

Faktor Pemicu Tekanan Rupiah

Pelemahan Rupiah hingga melewati angka Rp18.000 didorong oleh kombinasi sentimen eksternal dan kebutuhan musiman domestik. Dari ranah global, kembali memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama situasi antara AS dan Iran yang telah mendongkrak harga minyak mentah dunia. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi global dan mendorong investor mengalihkan dananya ke aset aman (safe haven), berujung pada keluarnya modal asing (capital outflow) dari pasar berkembang termasuk Indonesia.

Di sisi internal, tekanan ini bertepatan dengan tingginya permintaan valuta asing (valas) di dalam negeri untuk keperluan rutin kuartalan, seperti repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran utang luar negeri.

Bantah Isu Reshuffle Kabinet Ekonomi

Menyusul fluktuasi tajam Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersebut, sempat beredar spekulasi dan rumor di media sosial yang menyebutkan bahwa Presiden akan melakukan perombakan (reshuffle) jajaran menteri di sektor ekonomi sebagai bentuk evaluasi. Menanggapi hal itu, Mensesneg secara tegas membantah kabar burung tersebut.

“Enggak ada, belum ada rencana itu (reshuffle). Justru yang sekarang kita perlukan adalah saling koordinasi yang erat, yang intens,” tutur Prasetyo.

Ia menambahkan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah memperkuat sinergi tim ekonomi yang ada, bukan melakukan perombakan struktural di tengah situasi pasar yang sensitif.

Sinergi Merespons Gejolak Pasar

Untuk meredam volatilitas dan menjaga stabilitas nilai tukar, Istana memastikan otoritas fiskal dan moneter terus bekerja secara intensif. Bank Indonesia (BI) dipastikan tetap berada di pasar untuk melakukan intervensi secara berkesinambungan agar pergerakan Rupiah tetap mencerminkan realitas fundamentalnya.

“Berkenaan dengan masalah Rupiah, kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan melakukan langkah-langkah,” pungkas Mensesneg.

Seluruh bauran kebijakan mitigasi ini berjalan langsung di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian guna mengembalikan sentimen positif dan menjaga kepercayaan investor di pasar finansial tanah air.

You may also like

Leave a Comment