Haimalang – Zama Homewear, brand busana rumahan asal Malang, mengembangkan bisnis dari produk daster menjadi lini fashion yang menjangkau pembeli di berbagai negara. Di balik pertumbuhan tersebut, usaha yang dirintis Srie Dewi Wirautami sejak 2017 ini mengandalkan perajin lokal dan dukungan logistik untuk memperluas pasar.
Perjalanan Zama Homewear bermula dari keinginan Dewi menghadirkan produk oleh-oleh khas Malang nonmakanan yang berkualitas dan tahan lama. Berbekal kemampuan desain produk, pembuatan pola, serta desain bordir, ia mengembangkan busana rumahan dengan karakter desain dan detail bordir yang menjadi ciri khas produknya.
Seiring perkembangan bisnis, Zama Homewear tidak lagi hanya menyasar pasar oleh-oleh. Produk yang ditawarkan kini mencakup busana untuk aktivitas sehari-hari hingga pakaian anak melalui lini Little Zama.
JNE Dukung Distribusi Produk Zama Homewear
Pertumbuhan bisnis Zama Homewear turut ditopang oleh layanan pengiriman. Sejak awal merintis usaha, Dewi mengandalkan JNE melalui Kantor Cabang Soekarno-Hatta, Malang, untuk mengirimkan pesanan kepada pelanggan.
Ketika volume transaksi meningkat, Zama Homewear kemudian menjadi pelanggan korporat JNE. Status tersebut memberikan fasilitas tambahan yang mendukung operasional pengiriman, termasuk penjadwalan penjemputan paket dan pembayaran tagihan bulanan.
Malang Main Branch Head JNE, Andre Nurdjianto, menyebut Zama Homewear sebagai salah satu pelanggan loyal perusahaan.
“Dengan bergabung sebagai customer corporate Zama mendapatkan beberapa fasilitas seperti penjadwalan penjemputan paket dan pembayaran tagihan bulanan,” kata Andre.
Bagi Dewi, kerja sama tersebut juga sejalan dengan nilai yang ingin dibangun melalui bisnisnya, yakni mengembangkan produk lokal dengan melibatkan sumber daya manusia dari dalam negeri.
“JNE ini 100% milik merah putih. Ini sejalan dengan visi Zama yang mengusung kearifan lokal serta memberdayakan SDM dari masyarakat kita sendiri,” ujar Dewi dalam program podcast Cerita Bareng Brand Lokal yang ditayangkan di kanal YouTube JNE.

Program podcast Cerita Bareng Brand Lokal yang ditayangkan di kanal YouTube JNE.
Dukungan distribusi menjadi salah satu faktor penting ketika pesanan datang dari berbagai wilayah Indonesia, terutama saat transaksi daring meningkat.
97 Persen Tim dan Perajin Zama Homewear Adalah Perempuan
Selain mengembangkan pasar, Zama Homewear membawa misi pemberdayaan masyarakat melalui proses produksi yang melibatkan perajin lokal Malang.
Dalam menjalankan bisnisnya, Zama menggunakan pendekatan padat karya. Proses pengerjaan produk dilakukan oleh tenaga kerja lokal tanpa mengandalkan mesin-mesin industri besar.
Salah satu aspek yang menonjol adalah keterlibatan perempuan. Menurut Dewi, sekitar 97 persen dari total tim dan perajin Zama Homewear merupakan perempuan.
Model bisnis ini menjadi bagian dari upaya Zama mendukung pemberdayaan perempuan sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.
Zama juga menerapkan prinsip produksi yang bertanggung jawab dengan memanfaatkan sisa kain dari proses produksi. Limbah tersebut didaur ulang atau diolah kembali menjadi produk sampingan yang memiliki nilai ekonomis.
Langkah tersebut sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta kemitraan untuk mencapai tujuan.
Produk Lokal Malang Dibawa ke Berbagai Negara
Perkembangan Zama Homewear mulai membuka peluang untuk menjangkau konsumen di luar Indonesia. Produk-produknya telah dibeli wisatawan asing maupun diaspora Indonesia untuk dibawa ke sejumlah negara, di antaranya Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Swiss, dan beberapa negara Eropa.
Zama juga mencatatkan sejumlah pencapaian. Brand ini meraih Juara 1 UMKM Berprestasi 2026 Jawa Timur dan terpilih mewakili Indonesia dalam ajang World Expo 2025 di Osaka, Jepang.
Saat ini, Zama Homewear berupaya memperluas penetrasi pasar internasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengikuti proses kurasi produk bersama Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) untuk Year-End Exhibition di Kobe Hankyu, Jepang.
Perluasan pasar tersebut menjadi bagian dari rencana jangka panjang Dewi untuk mengembangkan bisnis sekaligus meningkatkan jumlah tenaga kerja yang terlibat.
“Target kami hingga tahun 2030 adalah dapat memberdayakan hingga 500 pekerja kreatif. Dari angka 120 tim saat ini, kami optimistis dengan ekspansi pasar yang agresif dan dukungan ekosistem yang kuat, mimpi ini bisa terwujud,” tutup Dewi.
Perjalanan Zama Homewear menunjukkan bagaimana pengembangan desain, pemberdayaan perajin lokal, dan pengelolaan distribusi dapat berjalan beriringan dalam membangun usaha. Dari Malang, produk yang awalnya dikembangkan sebagai alternatif oleh-oleh kini memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas.