Haimalang – Sampah daun kering di lingkungan sekolah bisa dimanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif. Gagasan tersebut diperkenalkan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA) melalui program BRIDA (Briket Biomassa Berbasis Limbah Daun Kering) di SD Negeri Tanjungrejo 5 Malang.
Kegiatan yang digelar pada 29 September 2026 itu melibatkan 19 siswa dan jajaran guru. Para siswa tidak hanya mendapat penjelasan tentang pemilahan sampah, tetapi juga diajak mempraktikkan pengolahan daun kering menjadi briket biomassa.
Program ini menjadi bagian dari Projek Kepemimpinan mahasiswa PPG UNIKAMA untuk mengenalkan pengelolaan sampah melalui pembelajaran langsung di lingkungan sekolah.
BRIDA UNIKAMA Kenalkan Pemanfaatan Sampah Daun Kering
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Kepala SDN Tanjungrejo 5 Malang, Hendri Chosida, S.Pd. Program tersebut kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Pelaksana Projek, Kingkin Pindialesta, S.Pd., dan Dosen Pembimbing Lapangan UNIKAMA, Dr. Nuri Yuniasih, M.Pd.
Pada sesi materi, mahasiswa PPG UNIKAMA, Nanda Dwi Pratama, S.Pd., mengajak siswa mengenali perbedaan sampah organik dan anorganik serta memahami potensi pemanfaatan sampah di sekitar mereka.
Daun kering yang biasanya dikumpulkan sebagai sampah diperkenalkan sebagai bahan baku briket biomassa. Melalui pendekatan ini, siswa belajar bahwa pengelolaan sampah tidak selalu berhenti pada kegiatan membuang atau mengumpulkan limbah, tetapi juga bisa mencakup upaya pemanfaatan kembali.
Pengenalan tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan memilah sampah dan memahami dampak pengelolaannya terhadap lingkungan.
Siswa Praktik Membuat Briket Biomassa dari Daun Kering
Setelah menerima materi, siswa mengikuti praktik pembuatan BRIDA. Mereka diperkenalkan pada tahapan pengolahan daun kering, pencampuran dengan bahan perekat sederhana, hingga pencetakan menjadi briket.
Keterlibatan siswa secara langsung membuat kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian teori. Mereka juga berkesempatan belajar bekerja sama, mengembangkan kreativitas, dan memahami pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Pendekatan praktik menjadi bagian penting dalam mengenalkan persoalan lingkungan kepada anak usia sekolah dasar. Materi tentang sampah dan energi alternatif dapat dipelajari melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, pemanfaatan briket sebagai bahan bakar tetap membutuhkan pengolahan yang tepat, termasuk proses pengeringan dan pengujian sebelum digunakan.
Melibatkan 10 Mahasiswa PPG UNIKAMA
Program BRIDA digagas oleh 10 mahasiswa PPG Calon Guru UNIKAMA yang tergabung dalam tim Projek Kepemimpinan. Mereka adalah Kingkin Pindialesta, Mufaricha Ulia Anjani, Nanda Dwi Pratama, Novita Anggraini, Olivia Syaharani, Rebin Bima Septian, Ridah Heris Faj’riah, Rizky Dwi Rachmawati, Nia Ambarwati, dan Nurul Mita Anggraini.
Melalui program ini, mahasiswa calon guru berkesempatan menerapkan pembelajaran berbasis praktik sekaligus menjalankan kegiatan edukasi di tengah masyarakat.
Projek tersebut juga memperlihatkan bagaimana isu lingkungan dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran. Siswa tidak hanya diajak mengenali masalah, tetapi juga diperkenalkan pada salah satu alternatif pemanfaatan limbah yang bisa ditemukan di sekitar mereka.
Membangun Kebiasaan Mengelola Sampah Sejak Sekolah
Edukasi melalui BRIDA diharapkan dapat membantu siswa memahami pentingnya memilah dan mengelola sampah sejak dini. Pengetahuan yang diperoleh di sekolah juga diharapkan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di lingkungan masyarakat.
Pemanfaatan daun kering menjadi briket biomassa merupakan salah satu contoh pengenalan teknologi tepat guna dalam pendidikan lingkungan. Namun, dampak jangka panjang program ini akan bergantung pada keberlanjutan praktik pemilahan sampah serta pendampingan setelah kegiatan berlangsung.
Bagi mahasiswa PPG UNIKAMA, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengalaman mengembangkan pembelajaran kontekstual yang menghubungkan materi pendidikan dengan persoalan nyata.
Melalui BRIDA, sampah daun kering yang kerap dianggap tidak berguna diperkenalkan sebagai sumber daya yang berpotensi dimanfaatkan kembali. Dari lingkungan sekolah, upaya sederhana ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran siswa tentang pengelolaan sampah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih bertanggung jawab.