Haimalang – Sebuah foto kadang tidak hanya menunjukkan apa yang terjadi di depan kamera. Ia bisa membuka kembali ingatan tentang sebuah tempat, manusia yang pernah menghidupinya, hingga perubahan yang sedang berlangsung.
Itulah yang terjadi ketika Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengunjungi pameran fotografi Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang, Sabtu (26/9/2026).
Di antara karya yang dipamerkan, sebuah foto Pasar Gadang membawanya berbicara tentang perjalanan kawasan tersebut. Bagi Wahyu, Pasar Gadang bukan sekadar ruang perdagangan, tetapi bagian dari persoalan kota yang selama ini juga banyak disampaikan masyarakat kepadanya.
Memori Pasar Gadang
Ia mengingat kembali pengalamannya sekitar dua dekade lalu ketika masih menjadi Camat Tajinan. Cerita tentang Pasar Gadang kemudian kembali hadir dalam perjalanannya sebagai Wali Kota Malang.
“Ini dari permintaan juga. Dari banyak orang-orang yang selalu saya temui, ketemu di mana-mana, di media sosial saya. Selalu banyak masalah Pasar Gadang,” ujar Wahyu saat berdiskusi mengenai karya yang dipamerkan.

Suasana pameran foto PFI Malang di galeri Kayutangan, Kota Malang. Ben/Haimalang
Pada April 2026, Pemkot Malang menuntaskan relokasi sekitar 1.200 pedagang Pasar Induk Gadang (PIG). Sebagian besar pedagang tersebut telah berjualan di kawasan itu selama puluhan tahun, bahkan mencapai sekitar 35 tahun. Relokasi menjadi salah satu tahapan dalam penataan kawasan PIG yang kemudian dilanjutkan dengan pembongkaran lapak dan bangunan lama.
Namun, perubahan Pasar Gadang belum berhenti di relokasi.
Per 16 September 2026, Pemkot Malang masih melanjutkan penataan kawasan. Seluruh bangunan di area yang akan ditata telah dikosongkan dan proses pembongkaran terus dilakukan. Pemkot menargetkan seluruh rangkaian penataan kawasan PIG selesai pada akhir November 2026.
Dengan konteks itu, sebuah foto Pasar Gadang menjadi lebih dari sekadar dokumentasi.
Ia bisa menjadi penanda sebuah masa: ketika pedagang masih memenuhi kawasan, ketika aktivitas perdagangan bersinggungan dengan persoalan lalu lintas, hingga ketika kawasan tersebut mulai ditata kembali.
Foto yang Membuat Orang Berhenti
Bagi Wahyu, kekuatan fotografi justru muncul ketika fotografer mampu menunjukkan sesuatu yang tidak biasa dilihat masyarakat.
Ia menilai sebuah foto akan menarik ketika menghadirkan sudut pandang berbeda dari apa yang selama ini ditampilkan media.
“Kalau dalam satu foto kita bisa lihat berbeda angelnya, yang tidak biasa ditampilkan di media-media, itu menjadi orang tertarik,” katanya.
Menurutnya, ketertarikan tersebut kemudian dapat membawa penonton pada cerita yang lebih panjang.
Sebuah foto tidak harus menjelaskan semuanya. Ketika visual mampu membuat orang berhenti, memperhatikan, lalu berpikir, cerita di balik foto itu sudah mulai bekerja.

Wahyu Hidayat saat memberikan sambutan ditengah diskusi karya foto pameran “Tanah, Pangan dan Harapan” di galeri Kayutangan. Irfan/Pfi Malang
Pandangan tersebut juga terlihat ketika Wahyu mengamati karya lain dalam pameran. Salah satunya foto yang menggambarkan kehidupan sebuah keluarga di dalam rumah.
Ia melihat berbagai detail di dalam foto tersebut, termasuk foto tokoh negara dan foto orang tua. Sebagai elemen yang mampu membawa cerita mengenai kehidupan, identitas, hingga rasa nasionalisme.
“Yang tidak biasa ini menjadi sesuatu yang menarik. Yang tidak bisa kita lihat semua, yang tidak biasa tapi tampilannya juga membuat orang pertama ini melihat, ingin langsung kemudian berpikir,” ujarnya.
Kota yang Berubah, Foto yang Mengingat
Pasar Gadang memberi contoh bagaimana fotografi dapat menjadi catatan perubahan kota.
Perubahan sebuah kawasan sering kali terasa biasa bagi orang yang setiap hari berada di dalamnya. Namun ketika direkam melalui kamera, sebuah kondisi dapat menjadi arsip yang suatu hari memungkinkan orang melihat kembali bagaimana sebuah tempat pernah hidup.
Dalam kasus Pasar Gadang, perubahan itu tidak kecil.
Pedagang yang telah puluhan tahun menjalankan aktivitas ekonominya di kawasan tersebut kini telah berpindah. Jalan dan kawasan perdagangan kemudian ditata kembali, dengan pekerjaan perbaikan Jalan Gadang-Bumiayu yang juga menjadi bagian dari penataan kawasan. Pemkot menyebut perbaikan tersebut ditujukan untuk memperlancar akses lalu lintas sekaligus menindaklanjuti pemindahan pasar.
Karena itu, foto Pasar Gadang yang dipandang Wahyu di pameran PFI menjadi semacam jendela untuk membaca perubahan tersebut.
Bukan hanya tentang pasar.
Tetapi tentang manusia yang puluhan tahun beraktivitas di sana, ruang kota yang berubah, dan keputusan yang kemudian menggeser wajah kawasan.
Tanah, Pangan, dan Harapan
Pembicaraan tentang Pasar Gadang kemudian bertemu dengan tema besar pameran PFI Malang tahun ini: “Tanah, Pangan, dan Harapan.”
Tiga kata tersebut terasa dekat dengan cerita Pasar Gadang.
Ada tanah dan ruang yang ditata kembali. Ada pangan yang menjadi bagian dari aktivitas perdagangan pasar. Dan ada harapan, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Agar perubahan kawasan membawa kondisi yang lebih tertib dan nyaman.
Pada akhirnya, fotografi tidak hanya merekam apa yang sudah terjadi.
Ia juga memberi kesempatan kepada masyarakat untuk melihat kembali sebuah proses yang belum selesai.
Pasar Gadang masih terus berubah. Dan di tengah perubahan itu, kamera bekerja dengan caranya sendiri: menyimpan satu potongan waktu agar kelak sebuah kota masih bisa mengingat seperti apa dirinya pernah terlihat.
Pameran fotografi PFI Malang berlangsung hingga Minggu (27/9/2026), pukul 09.00–21.00 WIB.