Haimalang – Sampah plastik selama ini identik dengan persoalan lingkungan yang sulit ditangani. Namun di Klampok Kasri, Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang, tutup botol plastik justru disulap menjadi furnitur dan dekorasi rumah bernilai ekonomi tinggi.
Inovasi tersebut lahir melalui kolaborasi antara BINUS Malang, warga Klampok Kasri, serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang dalam program Edu Eco-Furniture Village. Program ini menjadi bukti bahwa limbah plastik tidak selalu berakhir di tempat pembuangan, tetapi dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Kota Malang sendiri menghasilkan sekitar 700 hingga 800 ton sampah setiap hari. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk mencari solusi pengelolaan sampah yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Melalui program ini, limbah tutup botol plastik jenis HDPE dikumpulkan, dipilah, kemudian diolah menjadi berbagai produk furnitur dan dekorasi rumah yang menarik. Hasil karya tersebut diberi nama KARUPA atau Karya Aksi Rupa Ulang Plastik.
Student Development Associate Manager BINUS Malang, Dr. Yoseph Benny Kusuma, menjelaskan bahwa pendampingan kepada masyarakat dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proses desain hingga strategi pemasaran produk.
Program Studi Desain Interior BINUS Malang dilibatkan untuk membantu merancang bentuk dan tampilan produk agar memiliki nilai estetika yang tinggi. Sementara dosen dari bidang kewirausahaan memberikan pendampingan terkait pengembangan bisnis dan potensi pasar.
“Produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai jual yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya saat pameran Edu Eco-Furniture Village di kawasan Kayutangan Heritage.

Pengunjung melihat beberapa barang yang di pamerkan di Edu Eco-Furniture Village. Pameran ini menyajikan berbagai barang yang berasal dari limbah plastik. Foto Haimalang
Kepala Program Studi Desain Interior BINUS Malang, Ira Audia Agustina, mengatakan bahwa program ini bertujuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah plastik.
Menurutnya, limbah plastik sebenarnya memiliki potensi besar sebagai material desain apabila diolah dengan kreativitas dan pendekatan yang tepat.
Tak hanya fokus pada desain dan produksi, BINUS juga melibatkan Program Studi Public Relations serta Desain Komunikasi Visual (DKV). Keduanya berperan dalam membangun identitas dan cerita di balik setiap produk yang dihasilkan.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya membeli sebuah produk, tetapi juga ikut berkontribusi dalam gerakan pelestarian lingkungan.
Antusiasme warga Klampok Kasri terlihat sejak awal pelaksanaan program. Berbagai kelompok masyarakat mulai dari orang tua, lansia, pemuda Karang Taruna hingga anak-anak turut terlibat dalam proses pengumpulan dan pengolahan limbah plastik.
Selain memperoleh keterampilan baru, warga juga melihat peluang usaha yang dapat dikembangkan dari hasil pengolahan sampah tersebut.
Deputy Campus Director BINUS Malang, Alvin Chandra, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen kampus untuk menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat melalui program BINUS Untuk Negeri.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam bidang pendidikan, tetapi juga perlu berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat melalui berbagai program kolaboratif.
Inovasi ini mendapat apresiasi dari Pelaksana Harian Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang. Ia menilai pengolahan tutup botol plastik menjadi produk jadi mampu meningkatkan nilai ekonomi sampah secara signifikan.
Selama ini, tutup botol plastik umumnya dijual dalam bentuk bahan mentah dengan harga sekitar Rp2.000 hingga Rp4.000 per kilogram. Setelah diolah menjadi furnitur atau produk dekoratif, nilainya dapat meningkat berkali-kali lipat.
“Ini menjadi langkah penting dalam mendorong pengelolaan sampah yang lebih produktif dan bernilai tambah,” ujarnya.
Melihat potensi yang besar, DLH Kota Malang berencana memperkenalkan model pengolahan serupa ke berbagai wilayah lain. Dengan dukungan ratusan bank sampah yang tersebar di Kota Malang, inovasi ini dinilai memiliki peluang untuk direplikasi secara lebih luas.
Untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat, program ini juga menggandeng Koffie Heritage Malang atau Kopi Tot Tot sebagai mitra strategis. Berlokasi di kawasan Kayutangan Heritage, kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi ruang interaksi bagi komunitas kreatif, pelaku UMKM, mahasiswa, dan masyarakat yang peduli terhadap lingkungan.
Melalui kreativitas dan kolaborasi, Kampung KASRI menunjukkan bahwa sampah plastik bukan sekadar limbah. Di tangan yang tepat, tutup botol bekas dapat berubah menjadi produk bernilai tinggi yang tidak hanya membantu menjaga lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga.