Haimalang – Suasana Main Hall Malang Creative Center (MCC), Selasa (21/7/2026) malam, dipenuhi pelaku ekonomi kreatif, akademisi, komunitas, perbankan, pemerintah, hingga insan media. Tepat 30 hari menjelang penyelenggaraan, panitia resmi meluncurkan Festival Mbois 11 yang tahun ini mengusung tema “Malang Menyala”.
Bukan sekadar festival tahunan, ajang yang akan digelar pada 21–23 Agustus 2026 di Stadion Gajayana tersebut diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi kreatif Kota Malang dengan target perputaran ekonomi mencapai Rp50 miliar selama tiga hari penyelenggaraan.
Panitia menargetkan sekitar 20 ribu pengunjung hadir dalam festival ini. Lebih dari 500 pelaku ekonomi kreatif akan terlibat dengan menghadirkan hampir 300 stan yang menampilkan produk UMKM, kriya, fesyen, kuliner, hingga berbagai subsektor ekonomi kreatif.
Ketua Pelaksana Festival Mbois 11, Gedeon Agung Sukoco, mengatakan Festival Mbois selama sebelas tahun terakhir terus berkembang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai unsur dalam ekosistem ekonomi kreatif.
“Festival Mbois bukan sekadar agenda tahunan, tetapi ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, media, hingga lembaga pendukung untuk bersama-sama membangun ekonomi kreatif Kota Malang,” ujarnya.
Menurut Gedeon, penyelenggaraan tahun ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan tiga momentum penting, yakni 100 tahun Stadion Gajayana, satu tahun Kota Malang menyandang predikat UNESCO Creative City of Media Arts, serta peringatan Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Melalui tema “Malang Menyala”, panitia ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif membangun Kota Malang melalui kreativitas dan kolaborasi.
“Kami percaya jika kolaborasi ini dilakukan bersama-sama, dampaknya akan sangat positif bagi Kota Malang,” katanya.
Festival Mbois dari Komunitas Menjadi Gerakan Kota
Ketua Harian Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Fiki Satari, mengungkapkan Festival Mbois lahir dari inisiatif komunitas kreatif yang sejak 11 tahun lalu konsisten membangun ruang kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, keberhasilan Festival Mbois bukan hasil kerja satu atau dua orang, melainkan buah gotong royong banyak pihak yang selama ini bekerja di balik layar.
“Festival ini dibangun oleh banyak orang. Semangat kebersamaan itulah yang membuat Festival Mbois mampu bertahan hingga memasuki penyelenggaraan ke-11,” ujarnya.
Fiki menjelaskan pemilihan Stadion Gajayana sebagai lokasi festival juga memiliki makna simbolis. Selain memasuki usia satu abad, stadion tersebut merupakan salah satu ikon bersejarah Kota Malang yang menjadi saksi perjalanan masyarakat selama puluhan tahun.
“Seratus tahun Stadion Gajayana menjadi fondasi untuk membangun energi masa depan. Kami ingin stadion ini menjadi ruang baru untuk berkarya, berkolaborasi, dan menggerakkan ekonomi kreatif,” jelasnya.
Ia juga memperkenalkan filosofi kunang-kunang sebagai identitas visual Festival Mbois 11. Menurutnya, kunang-kunang hanya hidup di lingkungan yang sehat dan akan terlihat indah ketika menyala bersama.
“Kunang-kunang tidak akan menarik jika hanya satu yang menyala. Festival ini ingin mengajak seluruh elemen Kota Malang menyala bersama melalui kolaborasi,” katanya.
Lima Klaster Utama Ekraf Kota Malang
Festival Mbois 11 akan menghadirkan lima klaster utama yang menjadi wajah ekonomi kreatif Kota Malang, yakni:
- Song of Malang Menyala, menghadirkan konser musik dan pertunjukan kreatif.
- Made by Arema Creative Market, etalase produk kreatif karya pelaku usaha lokal.
- Malang Sportainment, memadukan olahraga dengan industri kreatif.
- Malang Creative Connect, ruang konferensi, jejaring, dan business matching.
- Malang Media Art Experience and Exhibition, pameran media art yang memperkuat identitas Kota Malang sebagai UNESCO Creative City of Media Arts.
Selain itu, festival juga akan menghadirkan berbagai kegiatan seperti konser musik, pameran ekonomi kreatif, forum bisnis, sport tourism, media art exhibition, hingga business matching yang mempertemukan pelaku usaha, investor, komunitas, dan akademisi.
Pemkot Beri Dukungan Penuh
Pemerintah Kota Malang memastikan memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Festival Mbois 11.
Dalam sambutan Wali Kota Malang yang dibacakan Kepala Disporapar Kota Malang Baihaqi, festival ini dinilai menjadi salah satu wujud nyata kolaborasi yang telah mengantarkan Kota Malang meraih pengakuan sebagai UNESCO Creative City of Media Arts.
Menurutnya, ekosistem kreatif Kota Malang tumbuh melalui sinergi komunitas, pelaku ekonomi kreatif, akademisi, media, perbankan, dan pemerintah yang terus menghadirkan inovasi.
“Festival Mbois menjadi bukti bahwa kreativitas tumbuh dari akar budaya dan kolaborasi masyarakat. Pemerintah Kota Malang mendukung penuh penyelenggaraan festival ini sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif daerah,” demikian kutipan sambutan Wali Kota.
Baihaqi juga mengungkapkan Festival Mbois mendapat perhatian pemerintah pusat. Bahkan, Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama sejumlah kementerian terkait menjadikan momentum ini sebagai bagian dari upaya mendorong pemanfaatan stadion daerah tidak hanya sebagai sarana olahraga, tetapi juga sebagai ruang aktivitas ekonomi kreatif, UMKM, dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan target puluhan ribu pengunjung, ratusan pelaku ekonomi kreatif, serta perputaran ekonomi hingga Rp50 miliar, Festival Mbois 11 diharapkan tidak hanya menjadi perayaan kreativitas, tetapi juga memperkuat posisi Kota Malang sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif nasional yang terus tumbuh melalui semangat kolaborasi.