Haimalang – Sorak penonton bergemuruh ketika sebatang rotan melengkung lalu menghantam punggung seorang pria. Bekas cambukan seketika memerah. Tanpa pelindung tubuh, ia mundur beberapa langkah sebelum kembali berdiri tegak. Di hadapannya, sang lawan bersiap menerima giliran serangan berikutnya.
Sekilas, pemandangan itu tampak seperti pertarungan yang keras. Namun anggapan tersebut segera berubah ketika cambukan terakhir berhenti diayunkan.
Kedua peserta yang beberapa saat sebelumnya saling melukai justru melangkah mendekat, berjabat tangan, lalu tersenyum. Tidak ada pemenang, tidak ada yang kalah, dan tidak ada dendam yang dibawa pulang.
Pemandangan itu menjadi bagian dari tradisi Ujung atau Ujung-ujangan, ritual penutup dalam rangkaian Upacara Karo yang hingga kini terus dijaga masyarakat Suku Tengger di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Di balik sabetan rotan yang meninggalkan bilur di punggung, masyarakat Tengger menyimpan pesan sederhana namun mendalam. Persoalan antarmanusia tidak pernah selesai dengan kekerasan, melainkan melalui musyawarah, saling menghormati, dan saling memaafkan.
“Filosofinya, setiap ada permasalahan jangan diselesaikan dengan kekerasan. Kalau diselesaikan dengan kekerasan, ujung-ujungnya hanya dapat sakit tetapi permasalahan tidak akan selesai. Jadi, lebih baik diselesaikan dengan musyawarah,” ujar Kepala Desa Ngadas, Mujianto.

Warga Tengger melihat tradisi Ujung di Ngadas.Ben/Haimalang
Filosofi tersebut tercermin dalam aturan yang wajib dipatuhi seluruh peserta. Rotan hanya boleh diayunkan dari arah atas, sementara sabetan dari samping maupun bawah menjadi pantangan. Serangan dilakukan secara bergantian sehingga ritual tetap berlangsung dalam koridor adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Kalau aturan di sini mukul harus dari atas. Siapa pun yang ikut, ya harus ikut aturan dari kami,” kata Mujianto.

Peserta Ujung rotan saat puncak perayaan Karo di Ngadas. Ben/Haimalang
Tradisi Ujung tidak mengenal pemenang. Tidak ada piala, medali, ataupun gelar juara yang diperebutkan. Yang dibawa pulang para peserta hanyalah bilur di tubuh mereka, jejak dari sebuah ritual yang mengajarkan keberanian sekaligus penghormatan kepada sesama.
Tradisi Ujung Masyarakat Tengger
Di antara puluhan peserta yang memenuhi arena, Sampur Rama Dani kembali mengambil bagian dalam tradisi tersebut. Tahun ini menjadi keikutsertaannya yang kelima.

Sampur Rama Dani usai mengikuti Ujung di Ngadas. Ben/Haimalang
Ia masih mengingat pengalaman pertamanya mengikuti Ujung. Saat itu, rasa takut menjadi hal yang paling sulit dilawan.
“Awalnya saya takut. Saat terkena cambukan juga terasa perih. Tetapi setiap kali gamelan mulai berbunyi, rasanya ingin ikut lagi,” ujarnya.
Baca juga Yadnya Kasada Ritual Sakral di Bibir Kawah Bromo yang Menyatukan Alam, Legenda, dan Rasa Syukur
Rasa sakit akibat sabetan rotan memang hanya berlangsung sesaat. Namun beberapa bekas cambukan dari pelaksanaan Ujung sebelumnya masih membekas di punggung dan perutnya hingga kini.
“Ada bekas cambukan yang sampai sekarang belum hilang. Bekas tahun lalu di punggung dan perut masih terlihat,” katanya.
Meski demikian, bagi Sampur, inti dari tradisi Ujung bukanlah adu kekuatan, melainkan penghormatan terhadap sesama dan upaya menjaga warisan leluhur.
Baca juga Jelajah 6 Destinasi Wisata Sekitar Gunung Bromo yang Menawan
“Jabat tangan adalah bentuk saling menghargai. Tidak ada rasa dendam sama sekali, karena kami sama-sama datang untuk melestarikan tradisi ini,” tuturnya.
Pengalaman Sampur menjadi gambaran bagaimana filosofi Ujung benar-benar dijalankan oleh masyarakat Tengger. Arena menjadi tempat menguji keberanian, tetapi bukan ruang untuk menumbuhkan permusuhan.
Mujianto mengatakan, pemahaman itulah yang selama ini menjaga keharmonisan warga Desa Ngadas.
“Setelah melaksanakan Ujung, peserta langsung berjabat tangan. Artinya kegiatan ini sudah selesai, tidak ada dendam sama sekali. Berkat pemahaman ini, masyarakat di sini tidak pernah ada perkelahian,” ujarnya.
Puncak Perjalanan Spiritual Upacara Karo
Tradisi Ujung bukanlah ritual yang berdiri sendiri. Ia menjadi penutup dari rangkaian panjang Upacara Karo yang berlangsung selama beberapa hari sebagai ungkapan syukur sekaligus penghormatan kepada para leluhur.
Perayaan diawali dengan ritual Nyapu, dilanjutkan Ping Pitu ketika masyarakat mengundang roh leluhur hadir di rumah masing-masing selama tujuh hari. Setelah itu, warga menjalankan ritual Ngaturi yang diiringi tari Tayub, kemudian Kauman, tradisi makan bersama di rumah kepala desa sebagai simbol kebersamaan.
Suasana syukur berlanjut melalui Tumpeng Gede, ketika warga membawa tumpeng untuk didoakan sebelum diperebutkan bersama. Selanjutnya, dukun adat memimpin ritual Sesanti dengan berkeliling dari rumah ke rumah, lalu diteruskan Ngerowan sebagai tradisi saling mengunjungi antarwarga.
Seluruh rangkaian tersebut bermuara pada ritual Sadranan di pemakaman desa. Di hadapan makam para leluhur, masyarakat Tengger memanjatkan doa sekaligus merenungkan hakikat kehidupan.
“Para leluhur mengingatkan kita dengan mengajak berkumpul di pemakaman agar kita ingat bahwa semua manusia akan mati. Dengan begitu, kita tidak boleh sombong dan tidak semena-mena terhadap orang lain,” kata Mujianto.
Bilur akibat sabetan rotan memang akan memudar seiring waktu. Namun nilai yang diwariskan melalui tradisi Ujung tetap hidup di tengah masyarakat Tengger.
Di Desa Ngadas, keberanian tidak diukur dari seberapa keras seseorang mengayunkan rotan. Keberanian justru terlihat ketika setiap pertikaian mampu diakhiri dengan jabat tangan, saling menghormati, dan kembali hidup berdampingan sebagai saudara.