Haimalang – Memulai usaha sering kali identik dengan kebutuhan modal. Namun bagi Baskoro, penggagas SeduhPreneur, modal hanyalah salah satu bagian dari perjalanan membangun bisnis. Yang jauh lebih penting adalah membentuk pola pikir seorang wirausaha agar mampu mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi berbagai tantangan usaha.
Berangkat dari keyakinan tersebut, SeduhPreneur hadir sebagai program pemberdayaan yang tidak hanya membantu masyarakat memulai usaha, tetapi juga mendampingi mereka agar mampu mengelola dan mengembangkan bisnis secara mandiri.
Menurut Baskoro, SeduhPreneur merupakan program kolaborasi yang menggabungkan konsep Local Preneur Indonesia dengan Ukopia Indonesia. Melalui kolaborasi tersebut, program ini berfokus pada pengembangan usaha berbasis kopi dengan mengombinasikan dukungan permodalan, pendampingan, serta pembentukan pola pikir kewirausahaan.
Baca juga Perjalanan Suryanto, Guru Ngaji di Bondowoso Sukses Rintis Usaha Berkat Local Preneur Indonesia
Dalam perjalanannya, SeduhPreneur terus berkembang mengikuti kebutuhan para wirausaha binaan. Dari pengalaman mendampingi pelaku usaha, Baskoro menyadari bahwa bantuan modal saja belum cukup untuk membuat sebuah usaha mampu bertahan.
“Awalnya kami membantu orang memiliki usaha. Tetapi setelah dievaluasi, banyak yang berhenti di tengah jalan. Dari situ kami menambahkan pendampingan, mulai dari pengelolaan usaha hingga keuangan,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, ia kembali menemukan pelajaran penting. Pendampingan teknis ternyata juga belum menjadi jawaban utama.
“Yang paling penting adalah bagaimana mereka memiliki cara berpikir yang benar sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat. Karena sebuah usaha sangat bergantung pada keputusan pemiliknya,” kata Baskoro.
Filosofi tersebut kini menjadi fondasi utama SeduhPreneur. Program ini tidak hanya berorientasi pada lahirnya usaha baru, tetapi juga mencetak wirausaha yang mampu bertahan dan berkembang di tengah dinamika dunia usaha.
Salah satu wirausaha binaan yang merasakan manfaat program tersebut adalah Muhammad Lutfi Al Hakim. Setelah lebih dulu menjalankan usaha bengkel, ia memutuskan mengembangkan bisnisnya dengan membuka Angkringan 99 di Jalan Nangkaan, Bondowoso.

Muhammad Lutfi Al Hakim (kiri) dan Ahmad Ferdianto (kanan).
Angkringan tersebut menyajikan kopi saset, kopi single origin, nasi kucing, serta aneka sate khas angkringan. Meski baru beroperasi sekitar satu setengah bulan, usahanya mulai menunjukkan perkembangan. Pada hari biasa, Angkringan 99 melayani sekitar 15 pelanggan setiap malam. Sementara pada malam Sabtu dan Minggu, jumlah pengunjung dapat meningkat hingga lebih dari 25 orang.

Angkringan 99 milik Lutfi saat menjual barang dagangan.
Lutfi mengaku mendapatkan dukungan dari Baskoro, mulai dari motivasi hingga bantuan permodalan yang membantunya mewujudkan usaha baru tersebut.
Cerita serupa datang dari Ahmad Ferdianto, wirausaha binaan SeduhPreneur yang merintis Angkringan Kopi Mas Bre di Tapen, Bondowoso. Usaha yang baru berjalan hampir satu bulan itu menawarkan kopi single origin, kopi saset, serta aneka makanan khas angkringan. Dalam proses merintis usahanya, Ahmad memperoleh dukungan berupa modal sekaligus pendampingan sehingga mampu menjalankan bisnisnya dengan lebih terarah.
Bagi Baskoro, keberhasilan SeduhPreneur tidak diukur dari banyaknya modal yang disalurkan, melainkan dari semakin banyak masyarakat yang mampu membangun sumber penghasilan secara mandiri dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.
Ke depan, SeduhPreneur akan terus dikembangkan. Saat ini program berfokus di Bondowoso, namun peluang ekspansi ke daerah lain seperti Jember dan Malang mulai dipersiapkan agar semakin banyak masyarakat yang memperoleh kesempatan menjadi wirausaha mandiri.