HaiMalang – Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) menggelar webinar fotografi nasional yang diikuti sekitar 250 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, mulai Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi hingga Papua.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang berbagi ilmu fotografi dan jurnalisme visual, tetapi juga memperkenalkan berbagai peluang pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. Webinar tersebut menjadi bagian dari komitmen Unikama dalam mengembangkan kompetensi generasi muda di bidang kreatif dan digital.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Ayu Liskinasih, S.S., M.Pd., mengatakan bahwa perguruan tinggi swasta saat ini memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan perguruan tinggi negeri.
Menurutnya, masih banyak calon mahasiswa yang memiliki potensi besar namun terkendala biaya pendidikan. Karena itu, Unikama terus menghadirkan berbagai program beasiswa dan sistem pembelajaran yang lebih fleksibel.
“Kami ingin memberikan akses pendidikan yang lebih luas kepada masyarakat. Tidak semua calon mahasiswa memiliki kesempatan masuk PTN, tetapi mereka tetap berhak mendapatkan pendidikan berkualitas dengan biaya yang terjangkau dan sistem pembelajaran yang fleksibel,”ujar Ayu.
Sebagai kampus yang telah memasuki usia ke-69 tahun, Unikama kini menerapkan kurikulum Outcome-Based Education(OBE) yang berfokus pada penguatan kompetensi, keterampilan praktis, dan portofolio mahasiswa agar lebih siap menghadapi dunia kerja.
Fleksibilitas tersebut juga diwujudkan melalui kelas karyawan, program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), hingga sistem hybrid learning yang memungkinkan mahasiswa dari berbagai daerah tetap dapat mengikuti perkuliahan tanpa harus meninggalkan pekerjaan maupun tempat tinggal mereka.
Membaca Cara Berpikir Juri Lomba Foto
Pada sesi utama, fotografer profesional sekaligus juri lomba fotografi nasional, Mamuk Ismuntoro, membawakan materi bertajuk Anatomi Sebuah Keputusan: Membaca Pikiran Juri, Panduan Kurasi Fotografi dan Jurnalisme Visual.
Dalam pemaparannya, Mamuk menjelaskan bahwa penilaian foto tidak hanya bergantung pada aspek teknis seperti komposisi, ketajaman gambar, atau pengaturan eksposur.
Menurutnya, seorang juri juga mempertimbangkan banyak hal lain, mulai dari kekuatan cerita, relevansi isu yang diangkat, hingga konteks sosial yang melatarbelakangi sebuah karya.
“Juri membawa seluruh pengalaman dan pengetahuannya saat menilai sebuah foto. Karena itu, foto yang baik bukan hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki pesan yang kuat,”jelasnya.
Ia juga memperkenalkan konsep “3 Detik Pertama”, yaitu momen ketika sebuah foto dinilai secara cepat untuk melihat apakah karya tersebut mampu menarik perhatian juri.
Jika berhasil melewati tahap tersebut, foto akan dianalisis lebih mendalam dari sisi pesan, kesesuaian tema, orisinalitas, serta nilai cerita yang terkandung di dalamnya.
Mamuk turut mengingatkan pentingnya menghadirkan momen yang alami dalam fotografi. Menurutnya, kejujuran emosi dalam sebuah foto sering kali menjadi faktor yang membedakan karya biasa dengan karya yang berkesan.
Selain itu, ia menekankan bahwa caption tidak boleh dianggap sebagai pelengkap semata.
“Caption adalah jembatan yang membantu audiens memahami konteks foto. Banyak karya bagus yang akhirnya kehilangan kekuatan karena narasi pendukungnya kurang tepat,”katanya.
Peserta Dapat Sudut Pandang Baru
Materi yang disampaikan mendapat respons positif dari peserta. Banyak yang mengaku memperoleh wawasan baru, terutama terkait cara berpikir juri saat melakukan penilaian dalam sebuah kompetisi fotografi.
“Jadi tambah wawasan baru, terutama soal teknik penilaian dari juri. Ternyata perspektif juri berbeda dengan yang selama ini kami bayangkan,”tulis salah satu peserta dalam kolom ulasan kegiatan.
Bagi sebagian peserta, materi ini tidak hanya membantu memahami aspek teknis fotografi, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang pentingnya cerita dan konteks dalam sebuah karya visual.
Lomba Foto Instagram Berhadiah Rp33 Juta
Sebagai tindak lanjut dari webinar tersebut, Unikama juga meluncurkan Lomba Foto Instagram bertema “Belajar Tanpa Batas” dengan total hadiah mencapai Rp33 juta.
Kompetisi ini terbuka untuk pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum dan menjadi wadah bagi peserta untuk menerapkan langsung ilmu yang diperoleh selama webinar.
Kategori pelajar akan memperebutkan hadiah uang tunai serta beasiswa S1, sementara kategori umum berkesempatan mendapatkan uang tunai dan voucher pendidikan S2.
Pendaftaran dan pengunggahan karya dibuka hingga 27 Juli 2026. Seluruh karya yang dikirim harus merupakan hasil foto orisinal dan dapat diambil menggunakan kamera DSLR, mirrorless, maupun smartphone.
Melalui kegiatan ini, Unikama menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya menjadi institusi pendidikan, tetapi juga ruang pengembangan kreativitas dan kompetensi generasi muda di bidang fotografi serta industri kreatif digital. Webinar dan kompetisi yang digelar menjadi bagian dari upaya kampus untuk mendorong lahirnya talenta-talenta visual yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun dunia kerja profesional.