Haimalang –Â Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) kembali menorehkan pencapaian akademik penting. Melalui Rapat Terbuka Senat yang berlangsung khidmat di Aula Sarwakirti pada Sabtu (6/6), Unikama resmi mengukuhkan Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si. sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Fisika Teknologi dan Inovasi Pembelajaran Fisika.
Pengukuhan ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Unikama dalam memperkuat komitmennya terhadap peningkatan mutu pendidikan tinggi. Fokus keilmuan yang diangkat sangat relevan dengan kebutuhan zaman, yakni integrasi teknologi modern ke dalam metodologi pembelajaran sains guna mencetak generasi yang adaptif dan inovatif.

Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si. saat pengukuhan guru besar di gedung Sarwakirti, Unikama.
Prosesi sakral ini dimulai tepat pukul 08.30 WIB saat rombongan Rektor beserta Ketua Senat Universitas memasuki ruangan acara. Suasana pembukaan semakin kental dengan nuansa budaya lokal Malang berkat sajian tari beskalan sebagai tarian penyambutan kehormatan. Tarian tradisional khas Malang ini menjadi simbol penghormatan sekaligus ucapan selamat datang bagi para tamu penting yang memadati aula.
Acara monumental ini dihadiri langsung oleh jajaran sivitas akademika Unikama, perwakilan pengurus PGRI, serta jajaran tokoh penting dari berbagai institusi pendidikan tinggi dan instansi kesehatan terkemuka di Indonesia. Kehadiran para pemimpin perguruan tinggi papan atas turut mewarnai prosesi ini untuk memberikan ucapan selamat secara langsung.

Jajaran Yayasan PT PPLP PGRI Kanjuruhan Malang.
Di antaranya adalah Dr. Untung Lasiyono, S.E., M.Si. (Rektor Universitas PGRI Adi Buana Surabaya), Prof. Dr. Arasy Alimudin, S.E., M.M. (Rektor Universitas Narotama Surabaya), Dr. Mochamad Taufiq, M.Pd. (Rektor Universitas PGRI Wiranegara Pasuruan), dan Dr. Imam Sujono, S.Pd., M.M. (Rektor Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung).
Selain itu, hadir pula jajaran pakar dan sejawat akademisi senior seperti Prof. Dr. Ade Gafar Abdullah, S.Pd., M.Si. (UPI), Prof. Dr. Hartono, M.Si. (Universitas PGRI Adi Buana Surabaya), Prof. Dr. Endang Purwaningsih (UM), dan Dr. Muhamad Nur Huda, M.Pd. (UNS). Dari sektor pelayanan publik dan kesehatan, tampak hadir Dr. dr. Mochamad Bachtiar Budianto, Sp.B, Subsp. Onk(K). selaku Direktur Utama RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Curhat Unik Keluarga Fisika
Di balik khidmatnya acara, Prof. Sudi yang merupakan pria asli Singosari ini sukses mencairkan suasana aula dengan cerita-cerita personal keluarganya yang mengundang tawa. Saat memulai orasinya, ia blak-blakan berseloroh mengenai latar belakang kehidupan rumah tangganya yang sama-sama berlatar belakang pendidikan Fisika.

Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si. bersama istri.
“Saya tidak bisa berkawan dengan banyak orang, sehingga tetap menjodoh dia yang fisika saja, sehingga saya banyak-banyak menunggu fisika di rumah,” kelakar Prof. Sudi yang langsung disambut tawa para tamu.
Keunikan keluarga Fisika ini berlanjut karena anak-anaknya justru tidak ada yang tertarik pada bidang sains. Ia bahkan sering mendapati momen ironis saat anak-anaknya masih bersekolah.
“Tetapi anak saya tidak ada yang suka fisika. Ini ya, kalau pulang semua waktu kelas 3 selalu ada keluhan bahwa, ‘Pak saya remedi,’ ternyata remedinya adalah remedi fisika. Wah, sangat bahaya ini,” kenang Prof. Sudi sambil tersenyum.
Namun, dari pengalaman mengasuh anaknya yang belajar mandiri lewat komputer hingga mampu berpikir kritis sejak SMP, Prof. Sudi menyadari betul bahwa lompatan teknologi digital mampu mengubah cara belajar tradisional. Hal inilah yang melandasi orasi ilmiahnya yang berjudul “Navigasi Kecerdasan Buatan dalam Pembelajaran Fisika: Integrasi AI-Specific TPACK dan Transformasi Pedagogi di Era Digital”.
Patahkan Stigma Guru Senior dan Tantangan AI
Dalam orasinya, Prof. Sudi memaparkan hasil riset berskala besar yang melibatkan 725 guru di Indonesia. Salah satu temuan paling mengejutkan dalam riset tersebut berhasil mematahkan stigma negatif mengenai guru senior yang sering dianggap gagap teknologi (gaptek) dan enggan menerima pembaruan.
Data ilmiah riset menunjukkan bahwa variabel demografi seperti usia dan gender ternyata memiliki pengaruh yang sangat minimal terhadap kompetensi teknologi.
“Yang menarik, guru yang lebih senior dan berpengalaman justru menunjukkan sikap yang lebih positif terhadap penggunaan AI dan niat adopsi yang lebih kuat,” jelasnya. Guru senior melihat secara pragmatis bahwa teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk mengurangi beban kerja administratif mereka serta mendukung pengajaran yang berdiferensiasi.
Meski begitu, Prof. Sudi juga memberikan kritik membangun bahwa banyak pendidik yang masih terjebak di dalam “zona nyaman” dengan menggunakan pola lama. Hasil riset memotret bahwa profil guru di Indonesia sebenarnya kuat pada penguasaan materi dan cara mengajar, tetapi masih lemah dalam hal integrasi teknologi ke dalam kurikulum.

Rektor Unikama, Prof. Sudi Dul Aji foto bersama dengan undangan.
Sebagai solusi, ia menawarkan kerangka kerja bernama AI-Specific TPACK (technological pedagogical content knowledge). Kerangka ini mengarahkan guru agar mampu mengombinasikan materi pelajaran, strategi mengajar, dan teknologi AI secara tepat untuk mengkonkritkan konsep sains yang abstrak, melakukan personalisasi belajar, serta menghadirkan eksperimen lewat laboratorium virtual yang hemat biaya.
Di akhir pemaparannya, Rektor Unikama ini merumuskan tiga rekomendasi strategis: pergeseran pelatihan guru ke arah penguatan integrasi pedagogi, perumusan regulasi etika dan privasi data AI di sekolah, serta optimalisasi program mentoring sebaya dengan melibatkan guru senior sebagai pemimpin inovasi.
Kendati mendukung penuh era digitalisasi, Prof. Sudi mengingatkan bahwa secanggih apa pun kecerdasan buatan, posisi guru sejati tidak akan pernah tergantikan.
“Kecerdasan buatan hanyalah sebuah alat. Dalam pendidikan fisika, AI dapat membantu kita menjelaskan hukum-hukum alam semesta dengan lebih visual, tetapi hanya seorang guru sejati yang dapat menginspirasi siswa untuk mengejar kebenaran ilmiah dengan integritas,” pungkasnya.