Haimalang – Bagaimana rasanya berdiri di atas batuan yang pernah berada puluhan kilometer di bawah permukaan bumi? Pengalaman langka itulah yang dirasakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) saat mengikuti Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di kawasan Geopark Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah, Senin (8/6/2026).
Sebanyak 60 mahasiswa diterjunkan langsung ke kawasan yang dikenal sebagai salah satu laboratorium geologi terpenting di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung di Kawasan Geodiversitas Indonesia BRIN Kebumen tersebut tidak hanya menjadi sarana pembelajaran lapangan, tetapi juga dirancang sebagai ajang penguatan budaya riset sejak dini bagi mahasiswa.
Karangsambung memiliki posisi istimewa dalam dunia geologi. Kawasan yang dijuluki “The Glowing Mother Earth of Java” ini menyimpan sedikitnya 42 geosite yang menjadi pusat penelitian para ilmuwan dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Salah satu keunikan utama kawasan ini adalah keberadaan batuan metamorf langka jenis eklogit. Batuan tersebut terbentuk akibat tekanan dan temperatur sangat tinggi di kedalaman bumi, sehingga menjadi bukti proses geologi yang berlangsung jutaan tahun lalu.
Tim peneliti BRIN menjelaskan bahwa batuan eklogit yang ditemukan di Karangsambung berasal dari kedalaman sekitar 45 hingga 300 kilometer di bawah permukaan bumi. Batuan ini terbentuk dari batuan beku basa yang mengalami proses metamorfisme ekstrem akibat tekanan dan panas yang sangat tinggi.
“Banyak ahli menyebut kawasan ini sebagai pondasi Pulau Jawa karena menyimpan batuan tertua yang dapat ditemukan di pulau ini,” terang tim BRIN saat memberikan penjelasan kepada mahasiswa.
Selain eklogit, mahasiswa juga mempelajari berbagai fenomena geologi lainnya seperti lava bantal (pillow lava), batuan sedimen, hingga batuan metamorf yang tersingkap di sejumlah titik geosite. Kelengkapan jenis batuan tersebut menjadikan Karangsambung sebagai pusat pembelajaran geodiversitas yang sangat penting di Indonesia.
Namun KKL kali ini tidak hanya berfokus pada observasi geologi. Program Studi Pendidikan Geografi Unikama juga menyiapkan skema pembelajaran berbasis riset dengan target luaran akademik yang jelas.
Ketua Program Studi Pendidikan Geografi Unikama, Dr. Suwito, M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan lapangan harus mampu menghasilkan pengalaman belajar yang berdampak nyata bagi pengembangan kompetensi mahasiswa.
“Mahasiswa harus mendapatkan pengalaman nyata sekaligus berlatih menyusun karya ilmiah,” ujarnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, peserta dibagi ke dalam dua kelompok penelitian dengan fokus yang berbeda.
Kelompok pertama melakukan kajian mengenai hubungan antara bentang alam dan bentang budaya yang berkembang di kawasan Geopark Kebumen. Hasil penelitian kelompok ini ditargetkan menjadi sebuah buku monograf yang mendokumentasikan berbagai temuan lapangan.
Sementara itu, kelompok kedua menjalankan penelitian yang lebih intensif melalui pengukuran langsung dan pengumpulan data lapangan secara sistematis. Luaran yang ditargetkan adalah artikel ilmiah yang siap dipublikasikan.
Selama dua hari pelaksanaan KKL, mahasiswa menjalani rangkaian kegiatan observasi, pengukuran, serta pengumpulan data di berbagai lokasi. Hari pertama difokuskan di Kawasan Geodiversitas Indonesia BRIN Kebumen, sedangkan hari kedua dilanjutkan dengan eksplorasi ke Tebing Breksi dan lokasi lava bantal yang menjadi ikon geologi Karangsambung.
Menurut Dr. Suwito, kegiatan ini merupakan bagian dari strategi prodi untuk membangun kapasitas akademik mahasiswa secara berkelanjutan. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori di ruang kuliah, tetapi juga dibiasakan untuk menyusun desain penelitian, melakukan pengumpulan data lapangan, hingga menulis karya ilmiah yang memenuhi standar akademik.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga terbiasa dengan desain riset, pengumpulan data lapangan, dan penulisan ilmiah. Karangsambung adalah laboratorium sempurna untuk itu,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengenal sejarah geologi Pulau Jawa dari dekat, tetapi juga memperoleh pengalaman riset yang menjadi bekal penting dalam perjalanan akademik mereka. Batuan-batuan purba yang dahulu berada jauh di dalam perut bumi kini menjadi saksi langkah awal mahasiswa Geografi Unikama dalam menapaki dunia penelitian dan pendidikan profesional.