Home PendidikanRiset Rektor Unikama Pada 725 Guru: Guru Senior Ternyata Lebih Siap Adopsi AI Ketimbang Anak Muda

Riset Rektor Unikama Pada 725 Guru: Guru Senior Ternyata Lebih Siap Adopsi AI Ketimbang Anak Muda

by Redaksi Hai Malang
0 comments

HaiMalang – Kesiapan para pendidik dalam menghadapi gempuran teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi sorotan utama dalam orasi ilmiah Rektor Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si.. Dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar di Aula Sarwakirti, beliau memaparkan hasil riset berskala besar yang melibatkan 725 guru di Indonesia dengan temuan yang cukup mengejutkan.

Salah satu temuan paling menarik dalam riset tersebut berhasil mematahkan stigma negatif yang selama ini melekat pada guru senior. Selama ini, ada stereotip di masyarakat bahwa guru yang sudah berumur atau senior pasti gagap teknologi (gaptek) dan enggan menerima pembaruan digital digital dibandingkan dengan guru muda.

Namun, data ilmiah yang dikumpulkan oleh Prof. Sudi bersama timnya justru membuktikan hal yang sebaliknya. Variabel demografi seperti usia dan gender ternyata memiliki pengaruh yang sangat minimal terhadap kompetensi AI spesifik di sekolah.

“Yang menarik, guru yang lebih senior dan berpengalaman justru menunjukkan sikap yang lebih positif terhadap penggunaan AI dan niat adopsi yang lebih kuat,” ujar Prof. Sudi dalam orasinya.

Menurutnya, hal ini mencerminkan adanya apresiasi pragmatis dari para guru berpengalaman. Guru senior melihat bahwa kehadiran teknologi AI dapat dimanfaatkan secara nyata untuk mengurangi beban kerja administratif mereka yang menumpuk, sekaligus mendukung proses pengajaran yang berdiferensiasi di ruang kelas.

Di sisi lain, Prof. Sudi juga memberikan kritik membangun bagi dunia pendidikan. Ia menyebutkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah banyaknya guru yang masih terjebak di dalam “zona nyaman” dengan tetap menggunakan pola pengajaran lama. Padahal, tantangan zaman menuntut anak didik untuk mampu berpikir kritis, sementara nilai kemampuan akademis siswa secara nasional dinilai masih di bawah standar.

Hasil riset terhadap 725 guru itu juga memotret bahwa profil pengetahuan guru di Indonesia sebenarnya sangat kuat pada penguasaan konten materi dan cara mengajar, namun masih lemah dalam hal integrasi teknologi. Banyak guru yang tahu cara mengoperasikan perangkat AI, tetapi bingung bagaimana menyelaraskannya dengan tujuan pembelajaran dalam kurikulum.

Sebagai solusi, Prof. Sudi menawarkan kerangka kerja bernama AI-Specific TPACK (technological pedagogical content knowledge). Kerangka ini menuntut guru untuk tidak sekadar pintar memakai aplikasi, melainkan mampu mengombinasikan materi pelajaran fisika, strategi mengajar yang menyenangkan, dan simulasi AI secara tepat. Pemanfaatan AI ini sangat penting untuk membantu visualisasi konsep sains yang abstrak, melakukan evaluasi adaptif, hingga menghadirkan eksperimen lewat laboratorium virtual yang hemat biaya.

Di akhir pemaparannya, Prof. Sudi merumuskan tiga rekomendasi strategis bagi institusi pendidikan dan pemerintah dalam menavigasi era AI:

Pertama, pelatihan guru harus digeser fokusnya dari sekadar pengoperasian teknis alat menuju penguatan integrasi pedagogi yang selaras dengan kurikulum. Kedua, sekolah harus segera merumuskan aturan main yang jelas mengenai etika dan privasi data dalam penggunaan AI. Ketiga, mengoptimalkan kekuatan demografi dengan melibatkan guru-guru senior sebagai pemimpin inovasi melalui program mentoring sebaya, guna memadukan kearifan mengajar mereka dengan kemajuan teknologi modern.

You may also like

Leave a Comment