Home NewsPendaki Tersesat Semeru Ditemukan Selamat, Kalit Ceritakan Proses Evakuasi dari Medan Curam

Pendaki Tersesat Semeru Ditemukan Selamat, Kalit Ceritakan Proses Evakuasi dari Medan Curam

by Redaksi Hai Malang
0 comments

HaiMalang – Saat sebagian besar orang masih terlelap, Ahmad Mukyidin Ali Lala atau yang akrab disapa Kalit justru bersiap untuk berangkat menuju lereng Gunung Semeru. Informasi mengenai tiga pendaki yang tersesat di jalur selatan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu diterimanya sekitar pukul 02.00 dini hari melalui jaringan pecinta alam.

Tanpa menunggu lama, Kalit bersama seorang rekannya segera menyiapkan perlengkapan yang diperlukan. Sekitar satu jam kemudian, keduanya berangkat menuju wilayah Ampelgading, Kabupaten Malang, untuk bergabung dalam operasi penyelamatan.

Kalit merupakan anggota Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam Whisnucitra (HIMPA), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang yang aktif dalam berbagai kegiatan kepencintaalaman dan kemanusiaan.

“Informasi kami terima sekitar jam 2 dini hari dari grup Mapala. Jam 3 pagi kami langsung berangkat,” ujar Kalit saat menceritakan pengalamannya terlibat dalam proses evakuasi tersebut.

Sesampainya di posko, Kalit dan relawan lainnya berkumpul untuk menerima pengarahan dari tim SAR dan Basarnas. Berbagai unsur terlibat dalam operasi itu, mulai dari warga setempat, relawan pecinta alam, hingga petugas penyelamat yang berpengalaman menangani kondisi darurat di medan pegunungan.

Evakuasi pendaki semeru

Proses evakuasi pendaki di Gunung Semeru. Doc Relawan

Saat tim tiba di lokasi, kabar baik sebenarnya sudah lebih dulu datang. Ketiga pendaki yang sebelumnya dilaporkan hilang berhasil ditemukan oleh warga. Namun medan yang sulit dijangkau membuat proses evakuasi tetap membutuhkan tenaga dan koordinasi banyak pihak.

“Korban sudah ditemukan warga. Kami membantu proses membawa korban turun dari lokasi,” katanya.

Berdasarkan informasi yang diterima tim relawan, ketiga pendaki tersebut melakukan pendakian melalui jalur selatan yang tidak resmi. Mereka diketahui memulai perjalanan pada Sabtu, 31 Mei 2026. Masalah muncul ketika mereka hendak turun dari gunung dan diduga salah mengambil arah.

Menurut Kalit, seharusnya para pendaki mengikuti jalur yang mengarah ke kiri untuk kembali ke rute yang benar. Namun mereka justru bergerak ke arah lain hingga memasuki kawasan yang semakin curam dan berbahaya.

“Mereka menemukan aliran sungai dan berusaha mengikuti jalur air. Tetapi medan di bawah berupa jurang yang sangat terjal,” jelasnya.

Kesalahan navigasi tersebut membuat mereka kehilangan orientasi dan kesulitan menemukan jalur keluar. Kondisi medan yang berat juga membuat ruang gerak mereka semakin terbatas.

Ketiga pendaki itu akhirnya dilaporkan hilang selama sekitar tiga hari. Beruntung, salah satu korban masih sempat mendapatkan sinyal telepon seluler dan mengirimkan lokasi kepada keluarganya. Informasi tersebut kemudian menjadi petunjuk penting yang membantu proses pencarian.

Di tengah keterbatasan yang mereka hadapi, peran masyarakat sekitar menjadi salah satu faktor penting yang membantu keselamatan para pendaki. Warga yang berhasil menemukan keberadaan mereka tidak hanya melaporkan lokasi korban, tetapi juga memberikan bantuan kebutuhan dasar.

“Warga yang menemukan juga membantu menyuplai makanan dan kebutuhan dasar selama mereka menunggu proses evakuasi,” ujar Kalit.

Bantuan tersebut membuat kondisi para pendaki tetap terjaga hingga tim penyelamat tiba. Di medan pegunungan yang sulit dijangkau, ketersediaan makanan, air minum, dan perlengkapan sederhana sering kali menjadi faktor penting untuk mempertahankan kondisi fisik korban.

Meski seluruh pendaki berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, salah satu korban mengalami dislokasi akibat terjatuh dan terguling di medan yang curam. Cedera tersebut membuat proses evakuasi menjadi lebih menantang karena tim harus memastikan korban dapat dibawa turun dengan aman.

Pendaki tersesat semeru

Kalit (kanan) bersama tim evakuasi saat berada di kawasan lereng Gunung Semeru. Doc Relawan

Kalit mengaku medan yang harus dilalui tim cukup berat. Jalur yang terjal dan kontur pegunungan yang naik-turun menguras tenaga para relawan yang terlibat.

“Turun-naik medannya cukup berat. Membawa korban di area seperti itu memang menjadi tantangan tersendiri,” katanya.

Bagi Kalit, operasi penyelamatan ini memberikan pengalaman yang berbeda dari kegiatan kemanusiaan yang selama ini ia jalani. Meski aktif di dunia kepencintaalaman, ini merupakan pengalaman pertamanya terlibat langsung dalam operasi rescue di kawasan pegunungan.

Sebelumnya, ia lebih sering membantu proses pencarian dan penyelamatan di wilayah perairan, khususnya penanganan kasus orang hanyut di Sungai Brantas.

“Kalau rescue sebelumnya lebih sering di air, seperti penanganan orang hanyut di Sungai Brantas. Untuk di gunung ini yang pertama,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga baginya mengenai pentingnya kerja sama dalam operasi penyelamatan. Menurutnya, keberhasilan evakuasi tidak lepas dari kolaborasi antara warga, relawan, tim SAR, dan berbagai pihak yang terlibat.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat yang ingin melakukan pendakian agar selalu menggunakan jalur resmi dan mematuhi aturan keselamatan yang berlaku. Selain lebih aman, penggunaan jalur resmi memudahkan proses pemantauan dan penanganan apabila terjadi keadaan darurat.

Bagi Kalit, panggilan tugas yang datang pada pukul dua dini hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun pengalaman menyusuri medan terjal Semeru untuk membantu sesama akan menjadi salah satu momen yang sulit dilupakan dalam perjalanan pengabdiannya sebagai pecinta alam.

You may also like