Home Wisata7 Hidden Gems di Malang yang Menarik Dijelajahi, dari Rumah Baca hingga Air Terjun Tersembunyi

7 Hidden Gems di Malang yang Menarik Dijelajahi, dari Rumah Baca hingga Air Terjun Tersembunyi

by Redaksi Hai Malang
0 comments

Haimalang – Malang memiliki banyak tempat menarik di luar destinasi wisata yang biasa masuk daftar kunjungan.

Ada rumah baca di dekat Pasar Besar, galeri yang menyimpan koleksi radio lawas, kampung perajin keramik, hingga air terjun yang membutuhkan perjalanan kaki untuk mencapainya.

Tempat-tempat ini menawarkan pengalaman berbeda, mulai dari membaca dan mengenal sejarah, melihat proses kerajinan, hingga menjelajahi alam.

Jika ingin mencari alternatif kegiatan saat berada di Malang Raya, tujuh tempat berikut bisa menjadi pilihan.

7 Hidden Gems di Malang

1. Galeri Nja’ Abbas Akub, Menikmati Karya Seni Lokal

Bagi pencinta seni, Galeri Nja’ Abbas Akub bisa menjadi pilihan untuk menikmati karya visual dalam suasana yang lebih intim. Galeri ini menghadirkan karya seni yang unik dan inspiratif, sekaligus memberi ruang bagi pengunjung untuk mengenal kreativitas seniman lokal.

Alih-alih sekadar datang untuk berfoto, pengunjung bisa meluangkan waktu mengamati karya, menangkap gagasan yang disampaikan, dan mengenal proses kreatif di baliknya. Pengalaman seperti ini cocok bagi mereka yang ingin menjelajahi sisi seni dan budaya Kota Malang.

Galeri ini beralamat di Jalan Arif Rahman Hakim, 2C No. 867, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Informasi yang tersedia menyebutkan jam operasional setiap hari pukul 06.00–21.00 WIB. Konfirmasikan kembali jadwal kunjungan sebelum berangkat, terutama jika ingin melihat pameran tertentu.

2. Omah Wiromargo, Rumah Baca di Dekat Pasar Besar

Di tengah aktivitas kawasan Pasar Besar yang ramai, Omah Wiromargo menawarkan suasana berbeda: ruang untuk membaca dan menikmati buku. Berlokasi di Jalan Wiromargo, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, tempat ini menempati bangunan lama yang difungsikan sebagai rumah baca.

Menurut laporan media lokal pada Januari 2026, Omah Wiromargo memiliki lebih dari 1.000 buku yang dapat dibaca secara gratis. Koleksinya menjadikan tempat ini menarik bagi pembaca, mahasiswa, maupun siapa saja yang ingin meluangkan waktu bersama buku di tengah kota.

Daya tarik Omah Wiromargo bukan hanya koleksi bacaannya, tetapi juga kontras suasananya dengan lingkungan Pasar Besar. Pengunjung bisa menyisipkan kegiatan membaca di sela-sela agenda belanja atau menjelajahi kawasan pusat kota.

Alamat yang dilaporkan adalah Jalan Wiromargo No. 40E, Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Informasi operasional yang dipublikasikan menyebutkan tempat ini buka Selasa hingga Minggu, pukul 09.00–17.00 WIB. Sebaiknya cek kembali jadwal sebelum datang.

Baca juga 25 Kuliner Legendaris Malang yang Masih Bertahan Hingga Sekarang, Wajib Dicoba Wisatawan

3. Kampung Keramik Dinoyo, Melihat Kerajinan dari Prosesnya

Kampung Keramik Dinoyo di Kecamatan Lowokwaru merupakan sentra kerajinan yang tumbuh bersama aktivitas ekonomi warga. Kawasan ini dikenal dengan beragam produk keramik, seperti mug, vas, cangkir, teko, dan berbagai benda dekoratif.

Hal yang membuatnya menarik bukan sekadar kesempatan membeli cendera mata. Pengunjung juga bisa mengenal proses pembuatan keramik secara lebih dekat. Sejumlah perajin pernah membuka kesempatan bagi pengunjung untuk mencoba membuat kerajinan, meski ketersediaannya perlu dikonfirmasi terlebih dahulu.

Sejarah sentra keramik Dinoyo juga menambah nilai kunjungannya. Kawasan ini berkembang dari tradisi produksi gerabah dan keramik yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Karena itu, berkunjung ke sini sekaligus memberi gambaran tentang bagaimana keterampilan produksi menjadi bagian dari identitas sebuah kawasan.

Kampung Keramik Dinoyo berada di sekitar Jalan MT Haryono, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Jika berencana mencoba aktivitas membuat keramik, hubungi perajin terlebih dahulu untuk mengetahui jadwal, biaya, dan ketersediaan kegiatan.

4. Galeri Bangho, Melihat Radio dan Gramofon Lawas

Bukan hanya seni rupa yang menarik untuk dijelajahi di Malang. Galeri Bangho menyimpan daya tarik bagi pencinta benda antik, khususnya kolektor radio lawas dan perangkat pemutar musik.

Laporan media lokal pada Juli 2026 menyoroti koleksi radio tabung dan gramofon dari berbagai periode, termasuk gramofon Thorens 1922 serta radio Telefunken 1951. Koleksi semacam ini menawarkan cara berbeda untuk melihat sejarah teknologi, desain, dan kebiasaan masyarakat menikmati musik pada masa lalu.

Galeri ini dikaitkan dengan Bang Holil atau Bangho dan berada di kawasan Jalan Ir Rais Gang 14, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Lokasinya yang berada di dalam gang membuatnya berbeda dari museum atau toko antik yang mudah terlihat dari jalan utama.

Namun, galeri koleksi pribadi tidak selalu memiliki jadwal kunjungan seperti tempat wisata umum. Sebaiknya hubungi pengelola terlebih dahulu untuk memastikan apakah galeri sedang menerima pengunjung dan apakah koleksi tertentu bisa dilihat.

5. Coban Cinde, Dua Air Terjun di Kawasan Tumpang

Coban Cinde berada di Desa Benjor, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Air terjun ini memiliki karakter yang menarik bagi pencinta wisata alam karena dikenal dengan dua aliran air terjun yang saling berhadapan.

Informasi pariwisata Kabupaten Malang menyebutkan salah satu air terjun memiliki ketinggian sekitar 50 meter, sementara aliran lainnya sekitar 30 meter. Bentang alam tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan sekaligus mengabadikan lanskap air terjun.

Coban Cinde juga menawarkan pengalaman perjalanan yang lebih menantang dibandingkan destinasi yang bisa dijangkau langsung dari area parkir. Pengunjung perlu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melalui jalur alam. Karena itu, tempat ini lebih cocok bagi orang yang siap melakukan trekking dan mengenakan alas kaki yang sesuai.

Coban Cinde dapat menjadi pilihan untuk fotografi alam, tetapi keselamatan tetap perlu menjadi prioritas. Hindari memaksakan perjalanan saat hujan deras, ketika jalur licin atau debit air meningkat. Pastikan pula kondisi akses dan aturan kunjungan terbaru kepada pengelola atau warga setempat sebelum berangkat.

6. Coban Glotak, Air Terjun Tinggi di Lereng Gunung Kawi

Berlokasi di Desa Bedalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Coban Glotak dikenal sebagai air terjun dengan ketinggian sekitar 100 meter di kawasan lereng Gunung Kawi.

Daya tarik utamanya adalah aliran air yang jatuh dari ketinggian dengan latar lingkungan alam. Berbeda dari tempat wisata yang menawarkan akses praktis, perjalanan menuju Coban Glotak membutuhkan persiapan fisik karena pengunjung harus melanjutkan perjalanan kaki melalui jalur alam dan kawasan aliran sungai.

Informasi dari laman Kecamatan Wagir menyebutkan akses menuju lokasi mencakup jalan yang sebagian berupa makadam dan tanah, dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar dua kilometer. Kondisi jalur tersebut bisa berubah, sehingga informasi lama tidak dapat dijadikan jaminan kondisi akses saat ini.

Nama Coban Glotak sendiri dipercaya berasal dari bunyi “glotak-glotak” yang dikaitkan dengan suara bebatuan yang jatuh bersama aliran air. Cerita ini menjadi bagian dari kisah lokal yang menyertai keberadaan air terjun tersebut.

Coban Glotak menarik bagi pencinta alam yang mencari pengalaman trekking dan lanskap air terjun tinggi. Namun, jangan datang hanya berbekal informasi dari foto atau peta digital. Pastikan jalur aman, cari tahu kondisi cuaca, dan ikuti arahan pengelola atau warga setempat.

7. Museum Musik Indonesia, Menelusuri Sejarah Musik

Museum Musik Indonesia menawarkan pengalaman yang berbeda dari wisata alam maupun kampung kerajinan. Tempat ini menyimpan koleksi yang berkaitan dengan perjalanan musik, mulai dari kaset, piringan hitam, CD, hingga berbagai materi dokumentasi musik.

Koleksi tersebut memberi kesempatan kepada pengunjung untuk melihat bagaimana musik direkam, disimpan, dan dinikmati dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi pencinta musik, kunjungan ke museum ini bisa menjadi perjalanan nostalgia. Bagi pengunjung lain, koleksinya dapat membuka perspektif tentang hubungan musik dengan perkembangan teknologi dan budaya populer.

Museum Musik Indonesia mengumumkan lokasi baru di Jalan Soekarno Hatta Indah IV No. 18, Kota Malang, saat pembukaan kembali pada Januari 2026. Karena museum pernah berpindah lokasi beberapa kali, pastikan alamat, jadwal kunjungan, dan ketentuan tiket melalui kanal resmi sebelum berangkat.

Museum ini cocok untuk kunjungan edukatif, terutama bagi orang yang ingin mengenal sejarah musik melalui benda dan rekaman yang menyertainya.

Menjelajahi Malang Lewat Tempat yang Punya Cerita

Tujuh tempat tersebut menunjukkan bahwa pengalaman menjelajahi Malang tidak harus selalu berpusat pada destinasi wisata populer. Rumah baca menghadirkan ruang untuk menikmati buku, galeri koleksi mengajak pengunjung mengenal benda bersejarah, kampung kerajinan memperlihatkan keterampilan warga, sedangkan air terjun menawarkan pengalaman berinteraksi dengan alam.

Istilah hidden gems dalam artikel ini tidak berarti seluruh tempat tersebut belum dikenal publik. Sebagian sudah memiliki sejarah, komunitas, dan pengunjung tersendiri. Daya tariknya justru terletak pada pengalaman yang lebih spesifik dan mungkin belum masuk dalam rencana perjalanan banyak orang.

Dengan persiapan yang tepat, penjelajahan tempat-tempat ini bisa menjadi cara untuk mengenal Malang dari sudut pandang yang lebih beragam.

You may also like