Haimalang – Persaingan smartphone lipat kini tidak lagi sekadar menghadirkan perangkat yang lebih tipis atau engsel yang semakin kokoh. Huawei mencoba menawarkan pendekatan berbeda melalui Huawei Pura X Max, smartphone lipat dengan konsep wide foldable yang mengedepankan layar lebih lebar untuk meningkatkan pengalaman penggunaan sehari-hari.
Berbeda dari kebanyakan ponsel lipat yang memiliki layar luar sempit dan memanjang, Huawei merancang Pura X Max dengan konsep dual wide display. Baik layar luar maupun layar utama sama-sama dibuat lebih lebar sehingga pengguna tetap nyaman mengoperasikan perangkat tanpa harus selalu membuka layar utama.
Dalam video ulasannya, reviewer teknologi David Brendi dari GadgetIn menyebut Pura X Max sebagai “spesies baru” di kategori smartphone lipat. Menurutnya, konsep tersebut berpotensi menjadi inspirasi bagi produsen lain, termasuk Apple dan Samsung, yang hingga kini masih dirumorkan mengembangkan perangkat foldable generasi berikutnya.
Huawei Ingin Mengubah Cara Orang Menggunakan Smartphone Lipat
Selama beberapa tahun terakhir, desain smartphone lipat relatif memiliki pola yang sama. Saat dilipat, layar luar berfungsi sebagai layar sekunder, sementara pengalaman terbaik baru didapat ketika perangkat dibuka.
Melalui Pura X Max, perusahaan asal China itu ingin menghadirkan pengalaman yang tetap nyaman baik saat perangkat dilipat maupun dibuka. Di situs resminya, Huawei bahkan menyebut Pura X Max sebagai perangkat yang “dibuat untuk menikmati konten”, menunjukkan bahwa rasio layar menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangannya.
Pendekatan ini membuat Pura X Max terasa lebih mendekati tablet mini dibanding smartphone lipat konvensional.
Desain Premium Huawei Pura X Max dengan Struktur Lipatan Baru
Unit yang diperlihatkan GadgetIn merupakan Collectors Edition yang hadir dengan kemasan premium berwarna emas.
Huawei juga menawarkan konfigurasi kelas atas dengan RAM hingga 16 GB dan penyimpanan internal 1 TB, menyasar pengguna profesional maupun kolektor gadget.

Tampilan Huawei Pura X Max. Foto Official Huawei
Di balik tampilannya, Huawei menyematkan struktur lipatan baru yang disebut Basalt Architecture. Perusahaan mengklaim desain tersebut meningkatkan ketahanan rangka sekaligus membuat mekanisme lipat lebih andal untuk penggunaan jangka panjang.
Perangkat ini juga telah mengantongi sertifikasi IP58 dan IP59, memberikan perlindungan terhadap debu serta cipratan air bertekanan, sebuah nilai tambah yang mulai menjadi standar di kelas smartphone lipat premium.
Layar Lebar Jadi Pembeda Utama
Huawei membekali Pura X Max dengan layar luar 5,4 inci LTPO OLED yang mendukung refresh rate adaptif hingga 120 Hz serta dilindungi Kunlun Glass.
Saat dibuka, pengguna akan disuguhkan layar utama 7,7 inci LTPO OLED dengan rasio yang lebih lebar dibanding sebagian besar foldable di pasaran.
Menurut David Brendi, format tersebut membuat perangkat terasa seperti tablet mini sehingga lebih nyaman digunakan untuk membaca dokumen, multitasking, maupun menikmati konten video.
Huawei sendiri mengklaim rasio layar ini mampu memberikan pengalaman multimedia yang lebih imersif karena area tampilan video menjadi lebih luas dengan black bar yang lebih tipis.
Meski demikian, David juga mencatat adanya konsekuensi dari desain tersebut. Cover screen yang lebih lebar membuat beberapa sudut layar sedikit lebih sulit dijangkau ketika mengetik menggunakan satu tangan.
Di sisi lain, Notebookcheck menilai layar luar Pura X Max tetap nyaman digunakan untuk aktivitas sehari-hari karena memberikan ruang yang lebih lega dibanding smartphone lipat dengan desain memanjang.
Performa Belum Mengejar Snapdragon, tetapi Tetap Mumpuni
Huawei mempercayakan performa Pura X Max pada chipset Kirin 9030 Pro. Dalam pengujian awal GadgetIn, performanya dinilai sudah sangat lancar untuk penggunaan harian maupun bermain gim populer seperti Mobile Legends.
Notebookcheck memberikan catatan yang lebih kritis. Media teknologi asal Jerman tersebut menilai performa CPU Kirin 9030 Pro sudah kompetitif, tetapi kemampuan grafisnya masih belum mampu menyamai chipset Snapdragon flagship terbaru. GPU yang digunakan juga belum mendukung hardware ray tracing sehingga untuk beberapa gim berat pengguna kemungkinan perlu menyesuaikan pengaturan grafis.
Meski begitu, untuk mayoritas kebutuhan sehari-hari, performa perangkat ini dinilai tetap sangat memadai.
Kamera XMAGE Masih Menjadi Senjata Huawei
Seperti seri flagship Huawei lainnya, sektor fotografi kembali menjadi salah satu nilai jual utama Pura X Max.
Smartphone ini mengusung kamera utama 50 MP dengan variable aperture dan OIS, kamera telefoto periskop 50 MP dengan optical zoom 3,5x, serta kamera ultrawide 12,5 MP.
Huawei juga membekali perangkat ini dengan Red Maple Color Camera, sensor khusus yang membantu menjaga konsistensi reproduksi warna di seluruh kamera.
Tak hanya mengandalkan perangkat keras, Huawei menghadirkan sistem pencitraan XMAGE yang dipadukan dengan berbagai fitur berbasis AI seperti Smart Capture, AI Composition, hingga peningkatan kualitas gambar secara otomatis.
Menurut David Brendi, desain lipat juga memungkinkan pengguna mengambil swafoto menggunakan kamera utama sehingga hasil foto maupun video selfie memiliki kualitas yang jauh lebih baik dibanding kamera depan konvensional.
HarmonyOS dan AI Jadi Andalan
Huawei Pura X Max menjalankan HarmonyOS terbaru untuk pasar China. Meski belum mendukung Google Mobile Services (GMS), Huawei terus memperkuat ekosistemnya melalui berbagai fitur berbasis kecerdasan buatan, termasuk AI Assistant, AI Image Creation, AI Eye Protection, hingga komunikasi darurat melalui satelit.
Bagi pengguna di luar China, absennya layanan Google masih menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum memutuskan membeli perangkat ini.
Harga Huawei Pura X Max
Huawei memasarkan Pura X Max di China dengan harga mulai sekitar 11.000 hingga 14.000 yuan, atau setara sekitar Rp25 jutaan, tergantung konfigurasi memori yang dipilih.
Layakkah Menjadi Masa Depan Smartphone Lipat?
Huawei Pura X Max memang belum bisa disebut sebagai smartphone lipat untuk semua orang, terutama karena masih menggunakan HarmonyOS versi China tanpa layanan Google. Namun dari sisi inovasi, perangkat ini menawarkan pendekatan yang berbeda dibanding kebanyakan foldable saat ini.
Konsep wide foldable tidak hanya menghadirkan bentuk baru, tetapi juga mencoba menjawab salah satu kelemahan smartphone lipat, yakni rasio layar yang kurang optimal untuk membaca dokumen, bekerja, maupun menikmati konten multimedia.
Apakah konsep ini akan menjadi standar baru di industri masih perlu menunggu respons pasar. Namun melihat keberanian Huawei dalam menghadirkan desain baru, bukan tidak mungkin produsen lain akan mulai mengeksplorasi pendekatan serupa pada generasi smartphone lipat berikutnya. Jika itu terjadi, Pura X Max bisa dikenang sebagai salah satu perangkat yang membuka arah baru bagi perkembangan smartphone foldable.