Haimalang – Perubahan cara berpikir generasi muda menuntut kampus untuk ikut bergerak. Bagi Rektor Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Sudi Dul Aji, perguruan tinggi yang relevan adalah kampus yang mampu memahami denyut zaman dan berdialog dengan mahasiswanya, khususnya Generasi Z.
Mahasiswa Gen Z tumbuh di tengah arus informasi yang cepat, teknologi yang lekat dengan keseharian, serta kebebasan berekspresi yang semakin terbuka. Menurut Sudi, kondisi tersebut tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang bagi kampus untuk memperbarui cara mendidik.
“Kampus harus hadir sebagai ruang yang mau mendengar. Generasi muda punya cara berpikir sendiri yang perlu dipahami, bukan dihakimi,” ujarnya.
Pandangan itu mendorong Unikama untuk memposisikan kampus sebagai ruang dialog, bukan sekadar ruang instruksi. Proses belajar tidak lagi bersifat satu arah, melainkan dibangun melalui percakapan, diskusi, dan pertukaran gagasan antara dosen dan mahasiswa.
Sudi Dul Aji meyakini bahwa dialog menjadi kunci penting dalam menjembatani jarak antargenerasi. Melalui dialog yang setara, mahasiswa Gen Z dapat mengekspresikan pandangan mereka, sementara kampus tetap berperan menjaga nilai, etika, dan kedalaman berpikir akademik.
“Kita tidak bisa memaksakan cara lama kepada generasi baru. Yang bisa dilakukan adalah membangun ruang dialog agar nilai dan pengetahuan bisa bertemu,” katanya.
Dalam konteks pendidikan yang kontekstual, Sudi menekankan pentingnya mengaitkan materi akademik dengan realitas yang dihadapi mahasiswa. Isu sosial, budaya digital, dan dinamika masyarakat perlu dihadirkan dalam ruang belajar agar pendidikan terasa dekat dan bermakna.
Menurutnya, kampus yang mampu membaca konteks zaman akan lebih mudah diterima oleh generasi muda. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai kewajiban formal, tetapi sebagai proses yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Di Unikama, upaya menjaga relevansi itu juga diarahkan pada penciptaan iklim kampus yang terbuka terhadap gagasan baru. Mahasiswa didorong untuk aktif berdiskusi, berorganisasi, dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang memperkaya pengalaman belajar di luar ruang kelas.
Bagi Sudi Dul Aji, kepemimpinan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengelola sistem dan administrasi. Lebih dari itu, pemimpin kampus harus mampu menjadi jembatan antara nilai-nilai akademik dan realitas generasi muda.
“Jika kampus ingin tetap relevan, ia harus mau berubah tanpa kehilangan jati diri,” tegasnya.
Melalui pendekatan tersebut, Unikama diarahkan menjadi kampus yang tidak hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga memberi arah. Kampus hadir sebagai ruang dialog yang hidup, tempat generasi muda belajar memahami dunia sekaligus membentuk masa depannya.
Di tengah dinamika generasi yang terus berubah, upaya menjaga relevansi ini menjadi bagian dari komitmen Unikama untuk tetap menjadi ruang belajar yang bermakna, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan mahasiswa Gen Z.