Home NewsDari Dapur jadi Bengkel Motor, Kisah Lutfi Rintis Usaha di Bondowoso Berkat Local Preneur Indonesia

Dari Dapur jadi Bengkel Motor, Kisah Lutfi Rintis Usaha di Bondowoso Berkat Local Preneur Indonesia

by Imam Abu
0 comments

HaiMalang.com — Tidak ada kata terlambat untuk memulai kembali. Itulah yang diyakini oleh Muhamad Lutfi Al Hakim, seorang wirausaha bengkel motor asal Bondowoso, yang bangkit dan kini mulai menuai hasil dari jerih payahnya.

Karena minim modal, Lutfi memulai usaha di Bondowoso dengan membuka bengkel seadanya di dapur rumah. Kini, perlahan namun pasti, usahanya mulai tumbuh dan dikenal masyarakat sekitar.

“Dulu sebelum buka bengkel ini saya mengajukan proposal di balai desa ditolak, setelah balik ke Bondowoso. Alasannya tidak punya tempat. Terus akhirnya ya di dapur bukanya,” kenang Lutfi saat ditemui di bengkelnya yang sederhana namun ramai pelanggan.

Lutfi sendiri bukan pemula di dunia perbengkelan. Ia pernah menghabiskan delapan tahun bekerja di bengkel di Jember, sejak 2006 hingga menikah pada 2014.

Namun, setelah pulang kampung pada 2016, hidupnya sempat terombang-ambing. Ia sempat mengajukan bantuan peralatan ke desa, namun kembali ditolak karena alasan tak memiliki lokasi usaha yang memadai.

“Saya kerja apa adanya. Padahal saya pulang 2016 itu saya sudah punya skill,” ujarnya pelan, namun tegas.

Barulah pada tahun 2024, secercah harapan muncul. Ia bertemu Baskoro, sosok di balik gerakan Local Preneur Indonesia yang selama ini mendampingi UMKM dan calon wirausaha di berbagai daerah di Jawa Timur, termasuk Bondowoso.

Kisah Lutfi Rintis Usaha di Bondowoso Berkat Local Preneur Indonesia

Bengkel sepeda motor milik Lutfi yang dirintis berkat Local Preneur Indonesia (Foto: Dok.)

“Saya diberi alat 2024 berupa kompresor pertama kali, kemudian akhirnya pas mau mendirikan bengkel. Alhamdulillah berkat beliau, sampai saat ini bisa berjalan,” terang Lutfi.

Kini, bengkelnya mulai ramai dikunjungi pelanggan. “Sehari 1-2 orang pelanggan pasti ada, itu biasanya servis ringan. Insyaallah servis ringan sampai berat bisa,” tuturnya sembari menunjuk satu unit motor yang sedang dibongkar.

Meski begitu, tantangan belum berakhir. Lutfi mengakui belum memiliki alat khusus untuk menangani motor dengan sistem injeksi. “Kalau awal mulainya saya memang belajarnya manual, tapi kalau sekarang semua serba injection, pakai scan semua. Iya, alhamdulillah ini belum satu tahun berjalan, saya ya insyaallah nanti,” ungkapnya optimistis.

Di balik cerita Lutfi, ada peran besar Baskoro yang terus menyalakan semangat wirausaha di desa-desa. Lewat Local Preneur Indonesia, ia telah membantu banyak orang untuk bangkit dan mandiri. Namun, ia sadar, mengajak orang berwirausaha bukan perkara mudah.

“Di Indonesia, memang ciri khasnya berwirausaha itu by survival. Jadi orang ketika tidak punya pekerjaan, tidak punya pekerjaan. Makanya pada saat seseorang yang awalnya bukan siapa-siapa dengan desakan kebutuhan hidup dan kemudian kita kasih modal usaha, ya mereka nolak,” ujar Baskoro, mengenang berbagai tantangan yang ia hadapi saat mulai menggagas gerakan ini.

Alih-alih menyerah, Baskoro memilih menyesuaikan pendekatannya. “Misal saya ndak ngomong target market, saya ganti misalnya bagaimana caranya laris,” jelasnya.

Motivasinya sederhana, tapi kuat. “Mungkin karena dulu saya juga susah seperti mereka. Jualan di pinggir jalan,” katanya, mengisahkan masa lalunya yang tak jauh beda dari mereka yang kini ia bantu.

Bagi Lutfi, sosok Baskoro bukan sekadar pendamping usaha, tapi juga teladan. “Beliau memang profilnya orang baik. Pendampingannya memang dalam bentuk apapun sehingga bisa berjalan,” ucapnya penuh rasa hormat.

Dari sebuah dapur sederhana, kini Lutfi melayani servis motor dari ringan hingga berat. Dari kegigihan dan bimbingan yang tepat, sebuah usaha kecil mulai mengubah hidup. Cerita ini bukan sekadar tentang bengkel, tapi tentang harapan, kerja keras, dan keyakinan bahwa setiap orang berhak sukses—asal tak lelah mencoba.

Writer: Imam 

You may also like