Home PendidikanMerancang Sistem di Balik Kolam: Kisah Mahasiswa Sistem Informasi UNIKAMA Membangun Teknologi Smart Farming di Desa Talangagung

Merancang Sistem di Balik Kolam: Kisah Mahasiswa Sistem Informasi UNIKAMA Membangun Teknologi Smart Farming di Desa Talangagung

by Redaksi Hai Malang
0 comments

Malang, Haimalang.com – Di balik alat auto feeder tenaga surya dan sistem sensor yang kini terpasang di kolam-kolam ikan Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, ada proses panjang yang tidak selalu terlihat.

Beberapa hal ini meliputi, merancang database, menulis kode, merakit rangkaian elektronik, sampai menemani warga belajar menekan tombol pertama kalinya.

Itulah bagian yang saya jalani sebagai Koordinator Tim Teknologi (TI & TP) dalam Program Pemberdayaan Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (PPM-BEM) 2025 Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA).

Program ini menyasar dua mitra di Desa Talangagung, yaitu POKDAKAN Molek Jaya, kelompok pembudidaya ikan air tawar, dan POKMAS Anggrungan Maju Bersama, kelompok usaha olahan hasil perikanan.

Fokus utamanya adalah penerapan teknologi Internet of Things (IoT) berupa smart feeder dan sensor kualitas air untuk membantu proses budidaya ikan sekaligus mendorong digitalisasi pengelolaan usaha kedua mitra.

Membangun Fondasi Digital dari Belakang Layar
Sebelum alat bisa dipasang di kolam, ada pekerjaan teknis yang harus disiapkan lebih dulu.

Sejak awal program, saya bertugas merancang skema database menggunakan phpMyAdmin dan menyusun struktur website dengan teknik modular—memisahkan file header, footer, dan koneksi database agar kode lebih rapi dan mudah dirawat.

Website ini nantinya berfungsi sebagai media publikasi kegiatan, profil tim, galeri dokumentasi, sekaligus wajah digital pertama dari program ini untuk masyarakat luas.

Pekerjaan ini berjalan beriringan dengan koordinasi lapangan. Saat tim melakukan sosialisasi awal ke Kantor Desa dan BUMDes, saya ikut mengamati langsung bagaimana alur kerja mitra, yang ternyata masih sangat bergantung pada cara manual, baik dalam pencatatan produksi maupun pemasaran.

Pengamatan itu menjadi dasar penting agar sistem yang dibangun benar-benar sesuai kebutuhan, bukan sekadar teknologi yang canggih di atas kertas.

Dari Layar Laptop ke Kolam Ikan

Selain website, tugas teknis lain yang saya kerjakan adalah pengembangan sistem auto feeder, alat pemberian pakan otomatis bertenaga surya yang dilengkapi sensor pH dan suhu air.

Prosesnya melalui beberapa tahap: penyusunan logika program agar jadwal pemberian pakan berjalan tepat waktu, pengujian responsivitas sensor, hingga perakitan fisik alat seperti penyolderan rangkaian dan instalasi modul WiFi ke dalam kotak pelindung tahan lembap.

Tahap uji coba dilakukan berulang sebelum alat benar-benar dipasang di kolam mitra, karena kesalahan kecil pada kode maupun rangkaian bisa berakibat pada kegagalan alat di lapangan. Setelah dinyatakan siap, alat dipasang langsung di tiga kolam berbeda milik POKDAKAN Molek Jaya, diikuti dengan pendampingan agar mitra bisa mengoperasikan alat secara mandiri, mulai dari mengatur jadwal pakan hingga memantau kondisi kolam melalui perangkat yang tersedia.

Data Manual yang Berpindah ke Sistem Digital
Bagian lain yang menjadi tanggung jawab saya adalah digitalisasi pencatatan. Sebelumnya, data kondisi kolam dan hasil produksi masih dicatat manual di kertas. Bersama tim, saya membantu memindahkan proses ini ke formulir digital agar data lebih mudah diakses dan dianalisis.

Proses pendampingan pengisian data ini juga memberi banyak masukan langsung dari warga tentang bagaimana seharusnya tampilan aplikasi dibuat sesederhana mungkin agar tidak membingungkan pengguna yang baru pertama kali memakai perangkat digital.

Di luar tugas teknis, saya juga terlibat dalam kegiatan non-teknis program, seperti menjadi moderator saat workshop pengolahan ikan dan membantu kelancaran teknis acara pelatihan.

Bagi saya, pengalaman ini penting karena menunjukkan bahwa peran di bidang teknologi dalam program pengabdian masyarakat tidak berhenti di depan komputer, tetapi juga menuntut kemampuan berkomunikasi langsung dengan warga.

Hasil yang Mulai Terlihat

Setelah alat terpasang dan proses pendampingan berjalan, program ini mencatat sejumlah hasil. Berdasarkan laporan kemajuan program, penerapan teknologi smart aquaculture berbasis IoT ini berkontribusi pada peningkatan efisiensi pemberian pakan hingga 40 persen, penurunan angka kematian ikan hingga di bawah 10 persen, serta peningkatan produktivitas budidaya hingga 60 persen dibanding kondisi sebelumnya.

Selain pada sisi teknis budidaya, sistem pencatatan digital yang mulai diterapkan juga membantu kedua mitra memiliki data produksi dan kondisi kolam yang lebih tertata, sebagai dasar untuk perencanaan usaha ke depan.

Belajar dari Kolam, Bukan Hanya dari Kode
Bagi saya sebagai mahasiswa Sistem Informasi, program ini menjadi pengalaman yang berbeda dari mengerjakan proyek di kelas. Merancang sistem yang berfungsi di layar laptop ternyata jauh lebih mudah dibanding memastikan sistem itu benar-benar bisa digunakan oleh warga yang baru mengenal teknologi digital. Saya belajar bahwa fondasi teknis yang kuat harus tetap diimbangi dengan kesiapan pengguna di lapangan, karena teknologi secanggih apa pun tidak akan bermanfaat jika tidak dipahami dan digunakan oleh orang yang menjalankannya sehari-hari.

Dari Desa Talangagung, saya membawa pelajaran bahwa peran teknologi dalam pemberdayaan masyarakat bukan sekadar menghadirkan alat baru, melainkan memastikan alat tersebut menjadi bagian dari keseharian warga, diterima, dipahami, dan pada akhirnya dijaga oleh mereka sendiri.

Penulis Habiburrahman

You may also like