Home PendidikanDari Kolam ke Teknologi, Mahasiswa KKN Unikama Kembangkan Smart Aquaculture di Talangagung

Dari Kolam ke Teknologi, Mahasiswa KKN Unikama Kembangkan Smart Aquaculture di Talangagung

by Redaksi Hai Malang
0 comments

MALANG, HAIMALANG.COM – Potensi perikanan di Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, mulai dikembangkan dengan pendekatan teknologi.

Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahun Akademik 2026/2027, mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) mendampingi masyarakat mengembangkan budidaya ikan sekaligus memperkuat pengelolaan usaha dan pemasaran produk.

Program tersebut menyasar dua kelompok masyarakat, yakni POKDAKAN Molek Jaya yang bergerak di bidang budidaya ikan air tawar dan POKMAS Anggrungan Maju Bersama yang mengembangkan usaha kuliner serta ekonomi kreatif.

Budidaya Ikan Mulai Beralih ke Teknologi

Salah satu persoalan yang ditemukan mahasiswa adalah proses budidaya ikan yang masih banyak dilakukan secara manual.

Pemberian pakan belum sepenuhnya terukur, sementara pemantauan kualitas air masih terbatas. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi produktivitas sekaligus meningkatkan risiko kematian ikan.

POKDAKAN Molek Jaya saat ini memiliki 25 anggota aktif dengan 14 kolam terpal dan tiga kolam beton. Produksi rata-rata berada di kisaran 30–40 kilogram setiap siklus, sementara kebutuhan pasar disebut mencapai sekitar 100 kilogram per minggu secara konsisten.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa memperkenalkan konsep **smart aquaculture** melalui penggunaan auto feeder bertenaga surya, sensor pH dan suhu berbasis Internet of Things (IoT), serta sistem monitoring kondisi kolam.

Teknologi tersebut tidak hanya dipasang, tetapi juga disertai pendampingan agar anggota kelompok mampu mengoperasikan sekaligus melakukan perawatan secara mandiri.

Pendampingan mahasiswa tidak berhenti pada penerapan teknologi budidaya.

Aspek pengelolaan usaha juga menjadi perhatian. Masyarakat mendapatkan pelatihan mengenai manajemen usaha mikro, pencatatan keuangan digital, kewirausahaan sosial, kepemimpinan, branding hingga pemasaran digital.

Sebelumnya, pencatatan produksi dan keuangan kelompok belum dilakukan secara sistematis. Melalui pendampingan, kelompok mulai diarahkan melakukan pencatatan secara digital, menyusun rencana usaha dan melakukan evaluasi secara lebih teratur.

Langkah tersebut diharapkan membuat kelompok lebih mudah mengetahui kondisi usaha dan memiliki dasar yang lebih jelas ketika mengambil keputusan.

Ikan Diolah Menjadi Produk Bernilai Tambah

Potensi perikanan Talangagung juga dikembangkan melalui diversifikasi produk.

Hasil budidaya tidak hanya dijual dalam bentuk ikan segar, tetapi mulai diolah menjadi sejumlah produk makanan seperti abon, wonton, dimsum dan nugget.

Dalam prosesnya, masyarakat juga mendapatkan pendampingan mengenai Harga Pokok Produksi (HPP) dan pengendalian mutu.

Pengolahan tersebut membuka peluang agar hasil budidaya memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus menjangkau pasar yang lebih beragam.

Mahasiswa juga membantu kelompok memperkuat identitas produk melalui konsep logo, label, katalog dan dokumentasi produk.

Pemasaran Mulai Masuk Ranah Digital

Perubahan juga dilakukan pada sisi pemasaran.

Kelompok yang sebelumnya lebih banyak mengandalkan pemasaran konvensional mulai dikenalkan dengan katalog digital dan pemanfaatan media sosial seperti Instagram dan TikTok.

Menurut mahasiswa, pemasaran digital tidak sekadar membuat akun media sosial. Identitas produk, informasi yang jelas dan cara menampilkan produk menjadi bagian penting agar calon konsumen lebih mudah mengenal dan mempertimbangkan produk yang ditawarkan.

Efisiensi Pakan Capai 40 Persen

Program pendampingan tersebut mulai menunjukkan hasil.

Pada POKDAKAN Molek Jaya, penerapan teknologi smart aquaculture dilaporkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan sekitar 40 persen.

Tingkat mortalitas ikan yang sebelumnya berada di kisaran 20 persen juga disebut turun menjadi kurang dari 10 persen. Sementara produksi mengalami peningkatan sekitar 60 persen.

Di sisi pengelolaan, kelompok mulai menerapkan pencatatan produksi dan keuangan secara digital, memiliki PIC keuangan serta sistem administrasi yang lebih teratur.

Sementara pada POKMAS Anggrungan Maju Bersama, pendampingan menghasilkan sejumlah produk olahan ikan sekaligus mendorong anggota mengembangkan kemampuan dalam menyusun rencana usaha dan memanfaatkan media digital untuk promosi.

Bukan Sekadar Memberikan Teknologi

Bagi mahasiswa, pengalaman KKN di Talangagung juga menjadi proses belajar langsung mengenai bagaimana sebuah program pemberdayaan harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat.

Program tidak berhenti pada pemasangan alat atau pelaksanaan pelatihan. Pendampingan, komunikasi dan evaluasi menjadi bagian penting agar teknologi maupun sistem yang diperkenalkan dapat terus digunakan setelah kegiatan KKN berakhir.

Keberlanjutan program kemudian diperkuat melalui teknologi yang telah diterapkan, SOP, pembagian tugas, PIC teknis dan keuangan, sistem pencatatan digital serta dukungan kelompok masyarakat dan pemerintah desa.

Dari Talangagung, mahasiswa Unikama menunjukkan bahwa pengembangan potensi desa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Perubahan bisa dimulai dari persoalan sederhana di lapangan, kemudian dicari solusinya melalui teknologi, pendampingan dan kerja sama dengan masyarakat.

You may also like