Home PendidikanJadi Doktor di Usia Muda, Dosen Unikama Soroti Tantangan Guru SD di Era Digital

Jadi Doktor di Usia Muda, Dosen Unikama Soroti Tantangan Guru SD di Era Digital

by Redaksi Hai Malang
0 comments

Haimalang – Di tengah derasnya arus digitalisasi, peran guru sekolah dasar dinilai semakin krusial. Bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembentuk karakter dan cara berpikir anak sejak dini. Hal itu ditegaskan Dr. Nury Yuniasih, M.Pd, doktor baru dari Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama).

Dr. Nury meraih gelar doktor setelah menjalani ujian promosi pada 15 Januari 2026. Lahir di Malang, 15 Juni 1989, ia menekuni bidang Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dengan fokus pada penguatan pembelajaran yang relevan dengan tantangan zaman.

Menurutnya, pendidikan dasar tidak bisa lagi hanya berorientasi pada penguasaan materi. Guru SD perlu membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab agar mampu menghadapi persoalan nyata di lingkungan mereka.

“Pendidikan dasar adalah fondasi pembentukan karakter dan pola pikir anak. Di sinilah kebiasaan berpikir dan bersikap mulai terbentuk,” ujar Dr. Nury.

Tantangan Guru SD di Era Digital

Ia menilai tantangan utama pendidikan saat ini bukan lagi soal akses informasi. Anak-anak justru dihadapkan pada banjir informasi yang membutuhkan kemampuan memilah, memahami, dan mengolah secara bijak.

Dalam konteks ini, guru SD memegang peran strategis untuk membimbing siswa agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya secara bermakna. Dr. Nury menekankan pentingnya desain pembelajaran yang mengaitkan materi dengan masalah nyata di sekitar siswa.

“Teknologi seharusnya membantu anak berpikir dan memecahkan masalah, bukan hanya mempercantik pembelajaran,” katanya.

Teknologi Harus Menguatkan Nilai

Ia juga menyoroti kecenderungan penggunaan teknologi di kelas yang masih bersifat prosedural, seperti menonton atau mengerjakan tugas digital tanpa proses refleksi. Menurutnya, pendekatan seperti ini berisiko mengabaikan pembentukan karakter.

Melalui risetnya, Dr. Nury mengembangkan desain pembelajaran yang menempatkan teknologi sebagai alat pendukung proses berpikir. Media digital, termasuk video pembelajaran yang dapat diakses melalui QR code, digunakan untuk membantu siswa memahami konteks masalah, berdiskusi, dan merancang solusi sederhana.

“Yang terpenting bukan hasil akhirnya, tetapi proses berpikir, kerja sama, dan tanggung jawab yang tumbuh selama pembelajaran,” jelasnya.

Di akhir, Dr. Nury berpesan kepada calon guru SD agar tidak terpaku pada penguasaan teknologi semata. Menurutnya, guru tetap harus menjadi penjaga nilai dan teladan bagi siswa.

“Guru perlu menguasai desain pembelajaran yang tepat agar teknologi benar-benar membantu membentuk karakter dan cara berpikir anak,” tegasnya.

Baginya, pendidikan dasar adalah investasi karakter bangsa. Apa yang ditanamkan di bangku sekolah dasar akan menentukan kualitas generasi di masa depan.

 

You may also like