HaiMalang.com – Kota Tua Suhorath, atau yang dikenal sebagai Pattani Kuno, merupakan situs bersejarah yang terletak di Distrik Yaring, Provinsi Pattani, Thailand Selatan.
Kota ini tidak hanya menjadi saksi peradaban Melayu kuno yang berkembang jauh sebelum berdirinya Kota Pattani modern, tetapi juga memiliki peran penting dalam perdagangan internasional di masa lalu. Pada abad ke-15 sampai ke-17, Suhorath tumbuh menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Pattani.
Kota pelabuhan ini memiliki peran strategis dalam perdagangan dengan Cina, India, hingga Timur Tengah. Kerajaan Pattani dipimpin oleh seorang Sultan dan merupakan rumah bagi beberapa masjid penting.

Jejak sejarah Kota Tua Suhorath di Thailand
Di bawah pemerintahan seorang Sultan, Pattani dikenal sebagai pusat penyebaran Islam di wilayah tersebut dan menjadi rumah bagi berbagai masjid bersejarah seperti Masjid Kru Se. Kota Tua Suhorath diyakini sebagai bagian dari Kerajaan Lankasuka.
Sejumlah temuan arkeologis menunjukkan bahwa Suhorath merupakan bagian dari Kerajaan Lankasuka, kerajaan kuno yang memiliki kedekatan budaya dan hubungan dagang dengan India dan Cina. Bukti-bukti seperti reruntuhan candi kuno, patung Buddha bergaya Sriwijaya, dan artefak seni bercorak India menjadi identitas historis kawasan ini.
Kota Tua Suhorath Menjadi Kawasan Wisata Bersejarah
Saat ini, Kota Tua Suhorath menjadi objek wisata sejarah sekaligus situs arkeologi penting yang mencerminkan kemakmuran budaya Melayu dan penyebaran Islam di Semenanjung Malaya.
Untuk mencapai kawasan Kota Tua Suhorath ini, wisatawan memiliki beberapa pilihan moda transportasi yang bisa digunakan. Dari Bangkok, tersedia penerbangan menuju Bandara Narathiwat yang dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 1,5 jam menuju Distrik Yaring.
Alternatif lainnya adalah menggunakan kereta api dari Stasiun Hua Lamphong, Bangkok menuju Stasiun Yala atau Khok Pho yang merupakan stasiun terdekat dari Pattani. Tersedia pula layanan bus langsung dari Terminal Bus Selatan Bangkok untuk menuju ke Pattani dengan waktu tempuh sekitar 16 hingga 18 jam.
Ketika sampai di terminal bus Pattani, perjalanan dapat dilanjutkan dengan menyewa mobil atau menggunakan angkutan umum seperti songthaew.
Jika menggunakan kendaraan pribadi, pengunjung bisa melewati rute melalui Jalan Raya No. 4 (Phetkasem Road) yang melewati Provinsi Prachuap Khiri Khan, Chumphon, Surat Thani, hingga Nakhon Si Thammarat sebelum masuk ke Pattani. Waktu yang dibutuhkan melalui jalur darat ini antara 16 hingga 18 jam bergantung pada kondisi lalu lintas.
Meski menyimpan kekayaan sejarah dan budaya, wilayah Pattani merupakan kawasan dengan situasi keamanan khusus. Oleh karena itu, wisatawan disarankan untuk mencari informasi kondisi terkini sebelum bepergian, serta mempertimbangkan menggunakan jasa pemandu lokal untuk pengalaman dan eksplorasi yang lebih aman dan mendalam.
Wisatawan juga diimbau mengenakan pakaian yang sopan mengingat mayoritas penduduk di kawasan ini merupakan pemeluk agama Islam.
Berbagai aktivitas dapat dilakukan di Kota Tua Suhorath, antara lain seperti menjelajahi reruntuhan masjid berusia lebih dari 400 tahun yang mencerminkan perpaduan seni Islam dan budaya lokal, berjalan menyusuri tembok kota tua dan situs-situs kuno, serta mengunjungi komunitas adat untuk belajar langsung tentang budaya Melayu-Pattani.
Pengunjung juga dapat mengikuti kegiatan kerajinan tradisional seperti pembuatan batik Pattani, serta wisata religi ke makam kuno para Sultan Pattani yang merupakan tokoh penting dalam sejarah kerajaan.
Tak hanya itu, wisata alam dan relaksasi juga menjadi daya tarik tersendiri, seperti berjalan-jalan di sepanjang garis pantai Pattani, menikmati matahari terbenam, dan merasakan suasana damai kawasan pesisir.
Memotret arsitektur kuno dan gaya hidup masyarakat lokal pun menjadi pengalaman berharga yang melengkapi kunjungan ke kota yang sarat nilai sejarah dan spiritual ini.
Penulis adalah Sutthiya Musisut ([email protected]), Mahasiswa Walailak University Thailand yang sedang belajar bahasa Indonesia di UPT PSBBI (BIPA) Universitas Negeri Malang.
