Haimalang – Kisah toleransi warga Muslim dan jemaat GKJW Lawang terlihat dalam kegiatan gotong royong renovasi gereja di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Warga dari berbagai latar belakang agama ikut bekerja bersama memperbaiki bangunan yang telah berdiri sejak 1933 tersebut.
Sejumlah warga Muslim di sekitar gereja secara sukarela membantu menurunkan bagian atap yang mulai keropos pada Rabu (7/10/2026). Mereka bekerja bersama jemaat dalam proses renovasi Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Lawang.
Kebersamaan tidak hanya terlihat saat proses renovasi berlangsung. Sebelum pekerjaan dimulai, jemaat dan warga menggelar tumpengan bubur merah putih serta makan bersama.

Warga saling gotong royong membangun tempat beribadah. Foto Haimalang
Tradisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian awal renovasi GKJW Lawang yang masuk dalam daftar cagar budaya. Dalam tradisi Jawa, bubur merah putih kerap dimaknai sebagai simbol doa dan harapan agar kegiatan yang dilakukan mendapat perlindungan serta terhindar dari hal-hal buruk.
Pimpinan GKJW Lawang, Sevi Niasari, mengatakan renovasi dilakukan karena sejumlah bagian bangunan mulai membutuhkan perbaikan, termasuk atap yang mengalami kebocoran.
“GKJW Lawang itu sudah ada sejak tahun 1933. Dalam perkembangan waktu, atap sudah ada yang bocor dan beberapa ruangan perlu diperbaiki. Hubungan kami dengan warga sudah terjalin sejak lama sehingga saat kami mengumumkan akan merenovasi gereja, warga dengan sukarela menawarkan untuk membantu,” ujar Sevi.
Hubungan yang telah terjalin lama antara jemaat dan masyarakat sekitar menjadi salah satu alasan warga ikut membantu proses renovasi. Bagi mereka, gotong royong bukan hanya soal menyelesaikan pekerjaan fisik, tetapi juga menjaga hubungan baik yang telah terbangun di lingkungan tersebut.
Sejumlah warga Muslim terlihat mengangkat dan menata bagian atap bersama jemaat. Mereka bekerja berdampingan tanpa menjadikan perbedaan keyakinan sebagai penghalang untuk saling membantu.
Ketua Ansor PAC Lawang, Subchan Asyari, menilai kebersamaan tersebut menunjukkan bagaimana keberagaman dapat dirawat melalui tindakan sederhana di tengah masyarakat.
“Jadi inilah wajah Indonesia, berbeda namun satu tujuan. Ini adalah bentuk toleransi kita, bentuk keberagaman kita, juga sebagai bentuk mengikuti pesan pendahulu bangsa,” kata Subchan.
Kisah toleransi warga Muslim dan jemaat GKJW Lawang tersebut juga menunjukkan pentingnya interaksi antarwarga dalam kehidupan sehari-hari. Ketika masyarakat terbiasa bertemu, berkomunikasi, dan bekerja bersama, perbedaan agama tidak menjadi jarak.
Renovasi GKJW Lawang akhirnya tidak hanya menjadi proses memperbaiki bangunan. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi warga untuk kembali menunjukkan nilai gotong royong sekaligus menjaga kerukunan yang telah tumbuh di lingkungan sekitar gereja.
Dari Lawang, toleransi terlihat melalui hal sederhana. Warga Muslim dan jemaat GKJW saling membantu ketika ada kebutuhan bersama, sekaligus menjaga hubungan baik yang telah terjalin selama bertahun-tahun.