HaiMalang – Komitmen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) dalam mewujudkan diri sebagai universitas unggul dan multikultural tidak hanya diwujudkan melalui penguatan akademik, tetapi juga lewat pengembangan aset dan fasilitas kampus yang berorientasi penuh pada kenyamanan mahasiswa.
Hal tersebut disampaikan Perwakilan PPLP PT PGRI Malang, Dr. Nawaji, M.Pd, saat menjelaskan arah pengembangan sarana prasarana di lingkungan Unikama ke depan. Menurutnya, seluruh kebijakan pengembangan yang dilakukan yayasan dan pengurus kampus selalu menempatkan kepentingan mahasiswa sebagai prioritas utama.
“Kita menuju universitas unggul dan multikultural. Artinya lembaga ini harus mampu menampung seluruh dimensi masyarakat. Karena itu, semua pengembangan yang kita lakukan selalu mengedepankan kepentingan mahasiswa,” ujarnya.
Ia menegaskan, kelengkapan sarana prasarana bukan sekadar pelengkap, melainkan faktor penting agar proses pembelajaran, pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta aktivitas sivitas akademika dapat berjalan tanpa hambatan.
“Bagaimana proses pembelajaran bisa berjalan nyaman, bagaimana mahasiswa merasa senang dan kerasan di kampus, itu yang selalu kita pikirkan. Apa pun kekurangan yang dirasakan mahasiswa, itu akan kita penuhi secara bertahap sampai benar-benar lengkap,” jelasnya.
Rusunawa Jadi Hunian Favorit Mahasiswa
Salah satu bentuk nyata pengembangan aset tersebut terlihat dari optimalisasi Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) Unikama. Fasilitas ini memang disiapkan khusus untuk menunjang kebutuhan tempat tinggal mahasiswa dengan konsep yang nyaman, terjangkau, dan berbasis kebutuhan era digital.

Bangunan Rusunawa Unikama sebagai tempat mahasiswa.
Menurut Dr. Nawaji, Rusunawa tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga fasilitas penunjang seperti Wi-Fi, kelancaran air, listrik, serta lingkungan yang mendukung aktivitas mahasiswa.
“Rusunawa itu memang kita siapkan untuk mahasiswa. Semua kebutuhan digital seperti Wi-Fi kita penuhi. Jadi mahasiswa tidak perlu ke mana-mana, semua sudah tersedia di dalam,” katanya.
Menariknya, dua gedung Rusunawa yang dimiliki Unikama saat ini telah terisi penuh oleh mahasiswa. Bahkan, banyak mahasiswa yang sebelumnya tinggal di kos sekitar kampus memilih pindah ke Rusunawa karena merasa lebih nyaman.
“Ada mahasiswa yang sebelumnya kos di luar, setelah pindah ke Rusunawa, dia cerita jauh lebih enak di sini. Lebih nyaman dan kerasan,” tambahnya.

Dr. Nawaji saat berada di Unikama.
Dari sisi biaya, Rusunawa juga dinilai jauh lebih terjangkau dibanding kos di luar kampus. Mahasiswa hanya dikenakan biaya sekitar Rp300 ribu per bulan, yang digunakan untuk kebutuhan kebersihan, Wi-Fi, air, dan listrik.
“Kalau kos di luar bisa Rp450 ribu sampai Rp500 ribu. Di sini Rp300 ribu dan itu semua kembali untuk kebutuhan mahasiswa,” jelasnya.
Tantangan Pengembangan di Tengah Situasi yang Mengganggu
Meski demikian, Dr. Nawaji mengakui bahwa dalam proses pengembangan fasilitas kampus, terdapat sejumlah situasi yang cukup mengganggu kelancaran perencanaan.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti perjalanan yang seharusnya mulus di jalan tol, namun harus melewati jalan yang berguncang.
“Pasti mengganggu. Yang seharusnya bisa langsung kita gunakan untuk membangun sarana, kadang harus teralihkan karena situasi tertentu. Itu sangat mengganggu sekali,” ungkapnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa komitmen Unikama untuk terus melengkapi fasilitas dan meningkatkan kenyamanan mahasiswa tidak akan berhenti.
Pengembangan tetap dilakukan secara bertahap dengan tujuan akhir yang jelas: menciptakan lingkungan kampus yang lengkap, nyaman, dan mendukung mahasiswa serta sivitas akademika dalam menjalankan seluruh aktivitas akademik tanpa kendala.