Haimalang – Yadnya Kasada adalah salah satu ritual adat masyarakat Tengger, di kawasan Gunung Bromo yang selalu memikat perhatian wisatawan dan peneliti budaya.
Setiap tahun, tepatnya pada tanggal 14 bulan Kasada dalam penanggalan Tengger, masyarakat Tengger berkumpul untuk mempersembahkan hasil bumi, uang, bunga, hingga hewan ternak ke dalam kawah gunung berapi aktif.

Masyarakat Tengger berada di gua Widodaren untuk mengambil air yang mereka anggap suci sebelum puncak perayaan Yadnya Kasada. Ben/Haimalang
Prosesi ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga simbol penghormatan kepada alam dan leluhur, sekaligus bentuk rasa syukur atas kesuburan tanah yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Puncak Yadnya Kasada dimulai malam hari di Pura Luhur Poten, sebuah pura suci yang berdiri di tengah lautan pasir Bromo. Ribuan warga Tengger dan wisatawan memadati area pura, membawa sesaji yang sudah dipersiapkan. Aroma dupa bercampur dengan udara dingin, menciptakan suasana khidmat yang jarang ditemui di era modern.
Para dukun Tengger memimpin doa dan mantra, memanggil restu Yang Kuasa. Di sekitar pura, sesaji tertata rapi, mulai dari sayuran segar, buah-buahan, beras, uang, hingga ayam dan kambing. Semua persembahan ini melambangkan rasa syukur dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.
Pendakian Menuju Kawah, Puncak Ritual Yadnya Kasada
Setelah doa di pura selesai, rombongan memulai pendakian menuju bibir kawah Gunung Bromo. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit melewati hamparan lautan pasir dan tanjakan yang dipenuhi debu vulkanik. Angin yang berhembus membawa aroma belerang, memberi sensasi berbeda bagi siapa saja yang menapaki jalur ini.

Masyarakat Tengger membawa hasil bumi ke kawah Gunung Bromo. Ben/Haimalang
Baca juga Jelajah 6 Destinasi Wisata Sekitar Gunung Bromo yang Menawan
Di puncak, pemandangan yang memukau menyambut, kawah berasap, langit yang perlahan terang, dan orang-orang yang bersiap melemparkan persembahan. Satu per satu sesaji dilemparkan ke kawah, diiringi doa dan harapan. Menariknya, beberapa orang berdiri di lereng kawah membawa jaring untuk menangkap sesaji yang jatuh. Tradisi ini dipercaya membawa keberkahan, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Yadnya Kasada.
Asal Usul Yadnya Kasada, Kisah Roro Anteng dan Joko Seger
Ritual ini tak lepas dari legenda yang hidup di tengah masyarakat Tengger. Dikisahkan pasangan Roro Anteng dan Joko Seger memohon keturunan kepada para dewa dengan janji akan mengorbankan anak terakhir mereka jika dikaruniai 25 anak. Doa mereka dikabulkan, namun ketika janji itu tiba, mereka enggan melaksanakannya.
Gunung pun bergetar, dan suara gaib mengingatkan mereka untuk menepati sumpah. Akhirnya, dengan berat hati, sang anak bungsu, Kesuma, dikorbankan ke kawah Bromo. Sejak saat itu, Yadnya Kasada menjadi bentuk penghormatan dan pengingat akan janji leluhur, sekaligus simbol pengorbanan dan rasa hormat kepada alam semesta.
Baca juga Menelusuri Keindahan Tumpak Sewu
Makna Mendalam di Balik Persembahan
Gunung Bromo bagi masyarakat Tengger adalah sumber kehidupan. Tanah vulkanik yang subur memberi hasil pertanian melimpah, air yang cukup, dan kesejahteraan bagi komunitas mereka.
Yadnya Kasada menjadi cara mereka menjaga hubungan harmonis dengan alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

Suku tengger melemparkan hasil bumi ke kawah gunung bromo. Ben/haimalang
Daya Tarik Wisata dan Pelestarian Budaya
Tak hanya sakral, Yadnya Kasada kini menjadi daya tarik wisata budaya yang mendunia. Banyak wisatawan rela begadang demi menyaksikan prosesi yang memadukan keindahan alam dan nilai spiritualitas. Kamera dan ponsel mengabadikan setiap momen, namun masyarakat Tengger tetap menjaga aturan, hormati prosesi, jangan mengganggu, dan jaga kebersihan area suci.

Suasana pagi hari di puncak Gunung Bromo saat perayaan Yadnya Kasada.Ben/Haimalang
Gunung Bromo sendiri adalah bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, kawasan dengan pemandangan luar biasa dan keunikan geologis. Indonesia memiliki lebih dari 120 gunung berapi aktif, dan Bromo menjadi salah satu yang paling terkenal, bukan hanya karena keindahannya tetapi juga karena budaya Tengger yang hidup di sekitarnya.
Warisan yang Terus Dijaga
Di tengah gempuran modernisasi, masyarakat Tengger tetap memegang teguh tradisi Yadnya Kasada. Anak-anak muda belajar tentang sejarah ritual, cara membuat sesaji, dan makna doa yang dilantunkan. Hal ini menjadi bukti bahwa tradisi bisa bertahan dan berkembang jika dijaga oleh generasi penerus.
Bagi mereka, Yadnya Kasada adalah identitas. Ritual ini mengikat komunitas, mengajarkan rasa syukur, serta menumbuhkan kesadaran bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan. Dalam setiap dupa yang menyala, ada doa-doa yang mengalir untuk kelestarian, kesejahteraan, dan keharmonisan.