Home Serba Serbi7 Rekomendasi Buku Mencegah Burnout dan Merawat Kesehatan Mental

7 Rekomendasi Buku Mencegah Burnout dan Merawat Kesehatan Mental

by Redaksi Hai Malang
0 comments

Haimalang – Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, burnout telah menjadi fenomena yang semakin umum terjadi. Burnout merupakan kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental yang disebabkan oleh stres berkepanjangan dan berlebihan. Dalam artikel ini berisi rekomendasi buku mencegah burnout dan merawat kesehatan mental.

Kondisi ini umumnya terkait dengan pekerjaan atau aktivitas yang menuntut secara terus-menerus. Burnout bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan suatu keadaan di mana seseorang merasa kewalahan, terkuras energinya, dan kehilangan motivasi serta minat terhadap hal-hal yang sebelumnya dinikmati.

Burnout dapat memengaruhi siapa saja, terutama mereka yang sering memaksakan diri bekerja melampaui batas kemampuan, kurang mendapatkan apresiasi atas prestasi kerjanya, memiliki beban kerja yang tidak proporsional, serta mereka yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang monoton. Kondisi ini dapat berdampak serius terhadap kesehatan fisik dan mental seseorang jika tidak segera ditangani dengan tepat.

Buku sebagai Teman dalam Perjalanan

Beruntung, kita tidak sendiri dalam menghadapi situasi ini. Banyak ahli, penulis, dan praktisi telah membagikan pandangan dan strategi untuk mencegah burn‑out dengan cara yang lebih penuh kesadaran dan perawatan diri. Dalam tulisan ini, kamu akan menemukan tujuh buku pilihan yang tidak hanya menawarkan pengetahuan, tetapi juga rasa penghiburan, dorongan refleksi, dan panduan praktis. Mulai dari membantu membangun fokus batin (deep work), menciptakan sistem pengetahuan digital (second brain), hingga panduan menghadapi luka emosi secara langsung—semua bisa menjadi teman baik di perjalanan merawat keseimbangan jiwa.

Berikut 7 Rekomendasi Buku Mencegah Burnout dan Merawat Kesehatan Mental.

1. There’s No Such Thing as an Easy Job
Novel ini mengikuti petualangan seorang wanita muda yang merasa terbakar (burnout) karena terlalu keras bekerja. Ia memutuskan mencari “pekerjaan mudah” tanpa beban besar dan mencoba pekerjaan unik, seperti mengawasi kamera pengintai di taman, menulis iklan camilan, hingga menempel poster motivasi. Dengan narasi tenang namun cerdas, Kikuko Tsumura menyoroti pentingnya batasan diri, istirahat tanpa rasa bersalah, dan pencarian makna hidup di tengah tekanan budaya kerja.

2. Deep Work – Cal Newport
Cal Newport memperkenalkan konsep “deep work”, yaitu kemampuan bekerja dengan fokus penuh tanpa terganggu—sesuatu yang langka di era distraksi digital. Dia membedakan deep work dengan “shallow work”, seperti membalas email tanpa konten penting. Newport menawarkan strategi konkret, seperti menentukan blok waktu fokus atau meminimalkan gangguan digital, sebagai cara untuk memaksimalkan kreativitas dan produktivitas, bukan hanya bekerja lebih keras.

3. Remote: Ketika Kerja Jarak Jauh Jadi Keharusan dan Ngantor Jadi Hambatan – Jason Fried & David Heinemeier Hansson
Buku ini mematahkan asumsi bahwa produktivitas hanya dicapai dari kantor. Para penulis, yang mendirikan Basecamp menunjukkan bagaimana kerja jarak jauh justru bisa lebih efisien, bahagia, dan seimbang. Dengan pengalaman nyata, mereka membahas tantangan seperti kolaborasi dan kepercayaan tim, dan memberikan solusi praktis untuk membangun sistem kerja yang lebih manusiawi.

Baca Juga Berapa Porsi Ideal Minum Kopi Setiap Hari? Cek Jawaban Ilmiahnya

4. Building a Second Brain – Tiago Forte
Forte memperkenalkan konsep “otak kedua” digital—sistem catatan pribadi yang menyimpan, mengolah, dan mengakses informasi penting secara efektif. Dengan metode CODE (Capture, Organize, Distill, Express), pembaca diajak tidak hanya menyimpan informasi, tapi juga mengolahnya menjadi ide bermakna yang siap dieksekusi. Cocok untuk mereka yang ingin lebih produktif, kreatif, dan teratur dalam menghadapi informasi berlimpah.

5. Mengapa Tidak Pernah Ada yang Memberitahuku? – Dr. Julie Smith
Dalam gaya ringan dan penuh empati, Dr. Julie Smith mengupas emosi, kecemasan, trauma, dan kebiasaan mental sehat yang sering terabaikan. Ditulis oleh seorang psikolog klinis, buku ini menyajikan pelajaran praktis—dengan tone yang ramah dan tidak menggurui—untuk membantu membaca memahami pikiran, mengelola stres, dan menjaga kesehatan mental secara konsisten.

6. Emotional First Aid – Guy Winch (2013)
Guy Winch membedakan luka emosional—seperti penolakan, rasa bersalah, kesepian, dan rendah diri—dengan luka fisik, dan menunjukkan pentingnya “pertolongan pertama” untuk kesehatan mental. Dia menyusun diagnosis dan langkah penanganan tiap luka yang praktis dan bisa diterapkan segera. Banyak pembaca memuji buku ini karena bahasanya mudah diakses dan strateginya berbasis riset.

7. Loving the Wounded Soul – Regis Machdy
Regis Machdy menyajikan penjelasan mendalam tentang depresi dan luka batin, mulai dari aspek psikosomatis hingga faktor lingkungan, budaya, dan genetika. Kendati menyampaikan konsep ilmiah, buku ini tetap ringan dan mudah dipahami, cocok untuk pembaca umum yang ingin memahami depresi dan cara mengatasinya secara ilmiah dan reflektif.

You may also like