Haimalang – Di tengah sorotan global terhadap krisis air, perubahan iklim, dan bencana alam, tumbuh figur-figur muda yang sambil bergerak bukan hanya bicara. Seperti Muhammad Alif Dzulfikar, mahasiswa asal Jawa Timur yang kini menetap di Sleman, Yogyakarta. Ia bukan sekadar aktif, lebih dari lima tahun pengalaman advokasi di ranah WASH (Water, Sanitation, Hygiene), kebencanaan, dan partisipasi politik anak muda membentuknya menjadi suara kredibel tentang tata kelola sumber daya alam berkelanjutan.
Muhammad Alif Dzulfikar Dari Kampus ke Lapangan
Saat ini, Alif menempuh studi Magister Ilmu Politik & Pemerintahan di UGM, dengan fokus spesifik pada Tata Kelola Sumber Daya Alam. Sehari-hari, ia juga menjadi editor di Unit Studio Magister Kebijakan Publik UGM, dan menjabat sebagai sekretaris di Yayasan Tirta Artha Asri (WateryNation). Komitmennya bertambah kuat saat terlibat sebagai Mitra Muda UNICEF Indonesia (klaster WASH) sejak 2021 hingga 2025, di mana ia membantu menyusun dan mendampingi kebijakan khusus untuk anak-anak dan pemuda. Pada 2024, ia juga mengikuti program magang riset di RDI Global, mendalami isu Resiliensi Bencana dan Perubahan Iklim.
Dalam wawancara bersama Haimalang, Alif mengatakan air bukan sekadar kebutuhan, tetapi elemen hak fundamental yang seharusnya universal. “Akses terhadap air yang ‘bersih dan aman’ adalah hak dasar manusia, apa pun latar belakangnya.” katanya.
Kosmoka, sebagai platform penyedia narasumber unggulan, memilih Alif sebagai pembicara karena hasratnya yang kuat dalam isu WASH dan Water Governance yang tergolong niche di antara generasi muda saat ini. “Yang paling menonjol dari Alif adalah kemampuannya berkolaborasi dengan sesama pemuda yang se‑visi, instansi, bahkan UNICEF melalui advokasi, kampanye digital, pengembangan platform, hingga tulisan blog,” ujar Andan tim dari Kosmoka.
Baca Juga Virna Asrianti, Dari Gadis Mikrofon SMP ke Panggung Event Nasional
Lebih dari sekadar memiliki pemahaman teknis, Alif punya keunggulan dalam komunikasi, seperti penulisan ilmiah populer, editorial, dan penyampaian gagasan berbasis data lapangan. Dengan pengalaman lebih dari tiga tahun di sektor WASH dan DRR, serta empat tahun di bidang penulisan dan editorial, ia merangkai narasi yang informatif dan terhubung dengan audiens muda.
Kosmoka melihat kehadirannya tidak hanya sebagai pembicara, tetapi sebagai jembatan antara teori akademis dan praktik di lapangan menghadirkan suara yang berbasis aksi nyata dan kajian mendalam.