HaiMalang.com – Pulau Bali tidak hanya terkenal karena pantai-pantai eksotisnya, tetapi juga terkenal dengan budaya yang kental akan nilai spiritualitasnya. Salah satu budaya unik yang kini menjadi wisata lintas agama adalah budaya Melukat di Bali yang artinya membersihkan atau menyucikan.
Tradisi ini merupakan bagian dari ajaran Hindu di Bali yang bertujuan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin dari energi negatif, dosa, serta pengaruh buruk dalam kehidupan sehari-hari.
Keunikan Budaya Melukat di Bali
Budaya melukat diyakini masyarakat Bali sebagai cara untuk menjaga keseimbangan hidup dan keharmonisan dengan alam semesta. Selain itu, melukat juga sering dilakukan untuk menolak sial, mengembalikan keseimbangan energi dalam tubuh, serta meningkatkan kebersihan jiwa.
Dalam tradisi Hindu Bali, manusia tidak hanya memiliki tubuh fisik, tetapi juga tubuh spiritual yang harus selalu dijaga keseimbangannya. Energi negatif yang menumpuk akibat stres, beban pikiran, atau pengalaman buruk dapat mengganggu keseimbangan ini. Tradisi melukat bisa menjadi salah satu cara untuk membebaskan diri dari beban tersebut dan mendapatkan ketenangan batin.

Prosesi budaya Melukat di Bali (Foto: Dok.)
“Setelah melakukan tradisi melukat, saya merasa lebih tenang dan tidak setres lagi. Selain itu, akhir-akhir ini saya menjadi lebih mensyukuri hal-hal kecil seperti kesehatan dan kecukupan nikmat” tutur Juttalee Petsong, salah satu wisatawan asing dari Thailand.
Melukat juga sering dilakukan dalam beberapa kondisi tertentu, seperti ketika seseorang mengalami mimpi buruk berkepanjangan, merasa tubuh dan pikiran tidak nyaman, atau setelah mengalami peristiwa traumatis.
Dalam beberapa kasus, ritual ini juga dilakukan sebelum seseorang memulai tahap baru dalam kehidupannya, seperti pernikahan, kelahiran, atau upacara keagamaan lainnya.
Prosesi Melukat
Melukat dipandu oleh pemangku agama dan dilakukan di tempat-tempat yang dipercaya suci dan memiliki sumber air alami, seperti pura, mata air, atau sungai yang dianggap sakral. Ritual ini diawali dengan doa bersama dengan membawa sesajen seperti canang sari, bunga, dan dupa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Setelah berdoa, para peserta akan memasuki sumber air yang diyakini suci lalu membasuh wajah dan kepala dengan air suci tersebut. Setelah itu, peserta diarahkan untuk meminum sedikit air suci dan berdoa dengan tujuan khusus.

Foto bersama mahasiswa Thailand di Bali (Foto: Dok.)
Prosesi tersebut dilakukan berulang sesuai dengan petunjuk pemangku. Selanjutnya, peserta dianjurkan untuk bermeditasi atau merenung untuk merasakan ketenangan batin. Sebagai bentuk syukur, peserta akan dipimpin oleh pemangku untuk melakukan doa bersama sebelum meninggalkan tempat melukat.
Melukat merupakan salah satu tradisi keagamaan yang masih dilestarikan oleh masyarakat Bali. Pelaksanaan ritual ini bukan sekadar tradisi turun temurun saja, tetapi juga mengandung makna spiritual.
Pada masa kini, melukat juga dijadikan sebagai wisata lintas agama yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Sebagai salah satu warisan budaya, melukat sudah sepatutnya untuk dijaga dan dilestarikan agar tidak sampai hilang serta sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada leluhur.
Tidak hanya itu, melukat juga dilakukan untuk mencapai ketenangan jiwa dan keselarasan dengan alam semesta.
Penulis: Teerada Khampeerichaya ([email protected]), Mahasiswa Walailak University Thailand yang sedang belajar bahasa Indonesia di UPT PSBBI (BIPA) Universitas Negeri Malang.
