HaiMalang.com – Di tengah hiruk pikuk peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei, tak banyak yang mengingat nama Prof. Drs. H.M. Soedomo, M.A. Seorang tokoh pendidikan sekaligus akademisi Universitas Negeri Malang (UM) yang berdedikasi dan berkontribusi besar terhadap pendidikan dan pelestarian budaya nasional tak bisa dianggap remeh.
Di balik ketenangan kampus UM (dulu IKIP Malang), sosoknya menyimpan cerita pengabdian luar biasa yang berujung pada pengorbanan tertinggi: gugur dalam tugas negara.
Pada 27 Juli 1995, kabar duka datang dari perairan Loh Liang, Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Prof. Soedomo, kala itu menjabat sebagai Asisten I Menko Kesra sekaligus Ketua Kelompok Kerja Warisan Dunia (Pokja Wardun), dinyatakan hilang setelah speedboat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan laut.
Misi yang dijalankannya bukanlah perjalanan biasa— pahlawan pendidikan dari UM ini sedang menginspeksi kondisi Pulau Komodo untuk memastikan kelestariannya tetap diakui UNESCO sebagai warisan alam dunia. Tugas negara itu ia laksanakan sebagai Ketua Komite Warisan Dunia Internasional Indonesia UNESCO.
Meski jasadnya tak pernah ditemukan, dedikasinya tetap hidup dalam ingatan mereka yang mengenalnya.
Bagi sivitas akademika dan mahasiswa, Prof. Soedomo atau yang akrab disapa Pak Domo adalah simbol integritas. Ia dikenal sebagai sosok yang pekerja keras, disiplin, kreatif, penuh semangat, dan tak segan turun langsung ke lapangan.
Sikapnya yang tegas namun ramah meninggalkan kesan mendalam. Tak heran bila keteladanannya kerap dikenang, terutama saat UM merayakan momen-momen penting seperti Lustrum ke-12 tahun 2014.
Kontribusi Prof. Soedomo dalam dunia pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ia adalah pendiri Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) di IKIP Malang, yang kini berkembang menjadi salah satu program unggulan Universitas Negeri Malang.
Selain itu, ia merupakan Ketua pertama Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), yang menjadi cikal bakal program pengabdian kampus kepada masyarakat luas.
Perjalanan hidupnya dimulai di Jember, 16 Agustus 1935. Masa kecil dan remaja dijalaninya di Bondowoso, sebelum akhirnya melanjutkan SMA di St. Albertus Malang.
Pendidikan tingginya ditempuh di Universitas Gadjah Mada dan kemudian dilanjutkan ke Stanford University, Amerika Serikat, di mana ia meraih gelar master pada tahun 1977. Sejak awal, ia dikenal sebagai pribadi yang serius, tepat waktu, namun tetap fleksibel.
Karier akademiknya dimulai di PTPG Malang (cikal bakal Universitas Negeri Malang) sebagai bagian dari “angkatan kedua” dosen setelah Prof. Adam Bachtiar.
Ia kemudian mendirikan Departemen Pendidikan Sosial dan menjadi Ketua Jurusan pertama, mengembangkan program magister pada 1984, serta menjabat berbagai posisi strategis di kampus.
Namun, pengaruhnya tak terbatas di lingkungan kampus saja. Di tingkat nasional, Prof. Soedomo dikenal sebagai Ketua Ikatan Sarjana dan Pengembangan Sosial Indonesia (ISPPSI) dan Ketua Himpunan Pekerja Sosial Indonesia Jawa Timur.
Ia juga menjabat sebagai Asisten Menko Kesra bidang Kebudayaan, Pendidikan, dan Generasi Muda sejak 1990, serta dipercaya menjadi Ketua Komite Warisan Dunia Indonesia untuk UNESCO.
Di forum internasional, ia turut aktif di SEAMEO Innotech Center, termasuk menjadi konsultan untuk proyek pendidikan masyarakat desa miskin pada awal 1980-an.
Sumbangsih pemikirannya masih abadi melalui sejumlah buku penting seperti Pengembangan Sistem Belajar Masyarakat, Landasan Pendidikan dan PLS, hingga Perubahan Pengembangan Masyarakat, yang hingga kini menjadi rujukan utama dalam dunia akademik pendidikan nonformal.
Prof. Soedomo wafat dalam pengabdian. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia pendidikan dan kebudayaan Indonesia. Namun jejak perjuangannya tetap membekas—sebagai pengingat bahwa tak semua pahlawan dikenal luas, tetapi mereka tetap ada, bekerja dalam senyap, dan mencetak perubahan yang tak ternilai.
Inilah saatnya kita kembali mengangkat nama Prof. Drs. H.M. Soedomo, M.A.—seorang tokoh dari Malang yang layak disebut sebagai pahlawan pendidikan nasional.
Writer: Imam Abu Hanifah