HaiMalang.com – Menghadapi tingginya angka perceraian akibat perselingkuhan di Indonesia, seorang dosen Sistem Informasi dari Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Jacobus Wiwin Kuswinardi, ST., S.Kom., M.Kom bersama mahasiswinya, Jessica Carellia Josephine, berinisiatif mengembangkan riset akademik menjadi sebuah solusi digital berbasis teknologi.
Langkah ini juga didorong oleh data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tahun 2023 yang menunjukkan bahwa 65% kasus perceraian di Indonesia disebabkan oleh perselingkuhan, dengan konsekuensi serius terhadap kesehatan mental para korban.
Dari hasil penelitian mendalam tersebut, lahirlah Soulvaya, sebuah platform digital yang mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) dengan pendekatan edukatif dan terapi holistik.

Start up Soulvaya sebagai produk hilirisasi riset untuk bantu sembuhkan trauma perselingkuhan (Foto: Dok.)
Soulvaya menyediakan fitur-fitur seperti chatbot yang responsif secara emosional, modul terapi kognitif berbasis algoritma, serta komunitas online yang aman dan menjaga privasi pengguna.
“Kami menggunakan AI untuk menganalisis kebutuhan emosional pengguna dan merekomendasikan program healing yang adaptif, mulai dari konseling virtual hingga kelas mindfulness,” jelas dosen yang akrab disapa Jacob Win ini.
Jacob Win sendiri dikenal telah membantu mengembangkan puluhan startup sebelumnya. menekankan bahwa keterlibatan akademisi dalam mengatasi persoalan sosial sangatlah penting.
Dalam kapasitasnya sebagai Startup Coach bersertifikat internasional, Jacob membimbing proses hilirisasi riset ini ke dalam bentuk startup nyata. Dengan diluncurkannya Soulvaya, Jacob pun percaya yang percaya bahwa sinergi antara teknologi dan empati manusia sangat krusial.
Sebagai mahasiswa, Jessica pun dipercaya menjabat sebagai co-founder Soulvaya. Ditengah kesibukannya menyelesaikan tugas akhir mengenai penerapan AI dalam kesehatan mental. Ia mengaku keterlibatannya dalam proyek ini memberikan pengalaman luar biasa.
“Ini lebih dari sekadar tugas kampus. Saya belajar bagaimana mentransformasi data riset menjadi fitur-fitur aplikasi yang langsung menyasar kebutuhan korban. Misalnya, chatbot kami dirancang berdasarkan analisis ratusan kasus trauma akibat perselingkuhan,” ungkap Jessica.
Tim Soulvaya kini sedang mengadakan fase uji coba terbatas, bekerja sama dengan para psikolog dan penyintas kasus perselingkuhan, menjelang peluncuran resmi yang dijadwalkan pada pertengahan tahun 2025. Jessica optimistis terhadap masa depan proyek ini
“Target kami, dalam lima tahun, Soulvaya bisa menjangkau 1 juta pengguna di Asia Tenggara,” tambahnya.
Dengan pengalaman dan sertifikasi internasional sebagai Startup Coach, Jacob memastikan pengembangan Soulvaya berbasis strategi bisnis yang solid, sehingga mampu memberi dampak sosial yang luas sekaligus menjamin keberlanjutan finansial.
“Hilirisasi riset bukan sekadar tren, tapi kewajiban moral. Soulvaya adalah bukti bahwa penelitian akademis harus bertransformasi menjadi solusi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, terutama di era disruptif ini,” tegasnya.
Editor: Imam Abu Hanifah