Home Pilihan RedaksiPercaya Jalur Langit, Mulyani Hadi Wijaya Berhasil Membangun Dea Bakery dengan Ratusan Karyawan

Percaya Jalur Langit, Mulyani Hadi Wijaya Berhasil Membangun Dea Bakery dengan Ratusan Karyawan

by Redaksi Hai Malang
0 comments

Haimalang – DEA Bakery merupakan usaha yang menawarkan berbagai macam produk kue dan roti. Usaha ini lahir dari Malang, Jawa Timur, 16 tahun silam. Dibangun oleh seorang perempuan, yakni Mulyani Hadi Wijaya.

Lahir dari keluarga yang kurang mampu dan menjadi yatim sejak kecil, Mulyani harus berjuang keras untuk mendapatkan pendidikan dan penghidupan yang layak.

Berbagai pekerjaan dan usaha telah ia jalani, sebelum akhirnya membangun Dea Bakery. Saat ini Dea Bakery telah memiliki lebih dari 50 outlet yang tersebar di berbagai wilayah nusantara dengan ratusan karyawan. Berikut cerita perjalanan seorang perempuan membangun usahanya.

Perjalanan Mulyani dimulai pada tahun 2001, saat ia pindah ke Kepanjen, Malang dan belum memiliki banyak teman atau kenalan. Sebelumnya, ia telah mencoba berbagai jenis usaha. Dari menjual ikan asin, mie ayam, hingga berbagai usaha lainnya. Namun belum ada yang berhasil dan harus mengalami kegagalan.

Pada tahun 2001 itulah, ia menemukan kecintaannya pada dunia kuliner, terutama dalam membuat kue. Berawal dari niat untuk memudahkan dirinya dalam berbelanja bahan kue, Mulyani akhirnya membuka toko bahan kue kecil di pasar dengan modal seadanya.

“Toko kecil, omsetnya hari pertama cuma 15 ribu, besoknya 30 ribu. Itu sepi banget, sampai akhirnya saya mulai ngasih resep ke pelanggan dan ngajar les kue,” kenangnya.

Awalnya, ia mengajar cara membuat kue dan terus berkembang, hingga akhirnya pada tahun 2009 membuka outlet pertamanya di Kepanjen.

Membuka Dea Bakery di tahun 2009 bukanlah perkara mudah bagi Mulyani. Modal yang terbatas dan peralatan yang sederhana membuatnya harus bekerja keras dan tidak kenal lelah. “Toko pertama saya di Kepanjen itu seperti bayi, saya pulang malam, pulang pagi. Alat-alatnya juga seadanya, tapi produk kami diterima dengan baik oleh masyarakat,” ungkapnya.

dea bakery

Pekerja merapikan roti di salah satu outlet Dea Bakery, di Malang. Foto Imam/HaiMalang

Walau awalnya ragu, ia memutuskan untuk tetap maju. “Saya takut kalau nggak laku. Tapi saya yakin produknya awet sampai 4 hari tanpa pengawet. Saya jualnya hari kedua, tetap enak dan layak makan,” jelas Mulyani dengan senyum.

Seiring berjalannya waktu, Dea Bakery semakin berkembang. Dari Kepanjen, Mulyani mulai membuka cabang di berbagai kecamatan yang ada di Malang. Seperti, Gondanglegi, Turen, Dampit, hingga akhirnya meluas ke daerah lain, termasuk Pontianak dan berbagai kota di Sumatera. “Awalnya hanya karena permintaan pelanggan yang terus datang, akhirnya kami buka cabang di berbagai kota,” kata Mulyani.

Baca juga Dea Bakery Luncurkan Roti Kepang Sultana di Ulang Tahun ke-16, Bagikan 10.000 Roti ke Seluruh Indonesia

Meskipun bisnisnya berkembang pesat, ia tetap setia pada prinsip dasar integritas dan kualitas. “Saya selalu berpikir, kalau saya bikin kue, itu untuk keluarga saya, untuk anak-anak saya. Jadi saya pastikan semua bahan yang saya gunakan aman dan berkualitas. Integritas itu penting,” tegasnya.

Perubahan dan Inovasi Dea Bakery

Pada tahun 2017, Dea Bakery melakukan rebranding dengan perubahan identitas merek. Mulyani menyadari pentingnya membangun kepercayaan di mata pelanggan, dan oleh karena itu, ia memutuskan untuk meremajakan tampilan brand dan outlet Dea Bakery.

“Rebranding ini bukan hanya untuk menarik pelanggan baru, tetapi juga untuk membuat pelanggan lama merasa bangga membeli produk kami,” jelasnya. Ia juga menambahkan, terkadang orang tidak percaya kalau harga terlalu murah, jadi kami juga perlu menciptakan nilai lebih melalui produk yang berkualitas dan pelayanan yang terbaik.

Selain itu, Mulyani terus mengikuti tren kuliner dengan berinovasi. “Kami berusaha menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Misalnya, untuk souvenir hajatan, kami membuat kue dengan kemasan yang unik dan desain custom yang cocok untuk acara spesial,” ujarnya.

Meskipun telah meraih kesuksesan, Mulyani tidak berhenti berinovasi. Ia juga mendorong anak-anak muda untuk terlibat dalam dunia kuliner melalui kegiatan seperti fun cooking yang dikenalkan kepada anak-anak TK. “Kami ingin mengajarkan anak-anak untuk mengenal dunia kuliner sejak dini, sekaligus memberikan mereka pengalaman yang menyenangkan,” tambah Mulyani.

Inovasi lainnya adalah membuat produk roti yang sesuai dengan keinginan generasi muda, seperti roti dengan varian rasa yang lebih modern dan inovatif. Dea Bakery ingin mengikuti tren dan selera anak-anak muda, sambil tetap mempertahankan kualitas dan rasa yang enak.

Mendalami Filosofi Bisnis yang Tulus

Kunci dari kesuksesan Dea Bakery, menurut Mulyani, adalah kejujuran dan integritas. “Bisnis ini adalah milik Allah, kita hanya karyawan yang diberi amanah untuk menjalankannya dengan baik. Saya selalu meyakini bahwa rezeki itu sudah ada yang mengatur,” ujarnya.

Di akhir wawancara, Mulyani menutup dengan pesan yang menyentuh hati bagi para pengusaha muda. “Untuk berbisnis, tidak harus modal besar. Yang penting ada niat baik, mau belajar, dan terus bekerja keras. Jujur, integritas, dan pantang menyerah itu yang harus dijaga,” tutupnya dengan senyum penuh makna.

You may also like