Home NewsPertanian dan Perdagangan Masih Jadi Andalan Penyerapan Tenaga Kerja di Jawa Timur 

Pertanian dan Perdagangan Masih Jadi Andalan Penyerapan Tenaga Kerja di Jawa Timur 

by Redaksi Hai Malang
0 comments

Haimalang – Sektor pertanian dan perdagangan masih mencatatkan diri sebagai penyumbang lapangan kerja terbesar di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2024. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 23,36 juta penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) tercatat aktif bekerja dalam seminggu.

Dari total tersebut, tenaga kerja laki-laki masih mendominasi dengan angka 13,58 juta orang, sedangkan tenaga kerja perempuan berjumlah 9,77 juta orang. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa tantangan kesetaraan gender di dunia kerja masih cukup besar di provinsi yang menjadi salah satu pilar ekonomi nasional ini.

Pertanian Jadi Sektor Terbesar, Perdagangan Tempati Posisi Kedua

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menempati posisi teratas dalam menyerap tenaga kerja, yaitu sebanyak 7,35 juta orang. Mayoritas tenaga kerja di sektor ini adalah laki-laki (4,42 juta), dengan perempuan menyumbang sekitar 2,92 juta pekerja. Fakta ini mencerminkan bahwa kegiatan berbasis sumber daya alam, terutama di wilayah pedesaan, masih menjadi pilihan utama mata pencaharian masyarakat.

Sementara itu, sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk perbaikan mobil dan sepeda motor, menduduki peringkat kedua dengan total 4,35 juta pekerja. Menariknya, sektor ini memperlihatkan komposisi gender yang nyaris seimbang, di mana pekerja laki-laki berjumlah 2,23 juta dan perempuan 2,12 juta. Hal ini menunjukkan peran strategis perempuan dalam kegiatan ekonomi informal dan usaha keluarga, terutama di sektor ritel dan UMKM.

Industri Pengolahan dan Akomodasi Serap Banyak Tenaga Perempuan

Sektor industri pengolahan berada di posisi ketiga, mempekerjakan 3,54 juta orang, dengan keterlibatan perempuan yang signifikan mencapai 1,60 juta orang. Ini menunjukkan pentingnya peran industri padat karya dalam menciptakan peluang kerja bagi perempuan, khususnya di wilayah industri sentra seperti Gresik, Pasuruan, dan Sidoarjo.

Sektor akomodasi dan penyediaan makanan-minuman juga menjadi ruang kerja dominan bagi perempuan. Dari 1,86 juta tenaga kerja di sektor ini, lebih dari 1,18 juta adalah perempuan. Demikian pula pada sektor kesehatan dan kegiatan sosial, perempuan kembali mendominasi, yaitu 706 ribu dari total 1,13 juta pekerja.

Sektor dengan Dominasi Laki-laki, Konstruksi hingga Transportasi

Sebaliknya, sektor-sektor seperti konstruksi dan transportasi-pergudangan masih didominasi laki-laki secara ekstrem. Dari 1,52 juta pekerja di sektor konstruksi, hanya sekitar 21 ribu di antaranya perempuan. Pola serupa terlihat pada sektor transportasi yang menyerap 754 ribu orang, dengan perempuan hanya berjumlah 41 ribu pekerja.

Sektor Modern Masih Rendah Daya Serapnya

Sektor yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi masih menyerap tenaga kerja dalam jumlah relatif kecil, yaitu 109 ribu orang, dengan dominasi laki-laki. Sektor keuangan dan asuransi mempekerjakan 232 ribu orang, sementara sektor jasa pendidikan menyerap 463 ribu tenaga kerja, dengan jumlah perempuan yang jauh lebih sedikit dibanding laki-laki.

Sementara itu, beberapa sektor kecil seperti real estate (45 ribu pekerja), pengelolaan sampah dan air limbah (92 ribu), serta pertambangan dan penggalian (117 ribu), juga mencatat dominasi laki-laki yang kuat.

Tingginya ketergantungan terhadap sektor tradisional seperti pertanian dan perdagangan menunjukkan bahwa transformasi menuju sektor ekonomi modern, seperti industri berbasis teknologi dan jasa digital, masih belum merata di Jawa Timur. Selain itu, partisipasi tenaga kerja perempuan perlu terus didorong melalui kebijakan afirmatif, pelatihan vokasi, serta dukungan terhadap usaha perempuan di sektor formal maupun informal.

Upaya mendorong keberlanjutan sektor-sektor berbasis alam tetap penting, namun pengembangan ekonomi berbasis inovasi dan peningkatan kualitas SDM harus menjadi agenda prioritas. Dengan demikian, ketimpangan dan kesenjangan dalam ketenagakerjaan di Jawa Timur bisa diminimalkan secara bertahap.

You may also like