Home NewsPotret Kehidupan Adat Bali di Desa Penglipuran 

Potret Kehidupan Adat Bali di Desa Penglipuran 

by Imam Abu
0 comments

HaiMalang.com – Akhir Maret sampai awal April lalu, sepuluh mahasiswa dari Walailak University Thailand mengunjungi Bali dalam rangka Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama dua minggu.

Tempat pertama yang dikunjungi saat sampai di Bali adalah Desa Penglipuran. Setelah memasuki desa ini, perasaan tenang dan nyaman menyelimuti kami, para peserta KKN ”Melali ke Bali” asal Thailand.

Potret Kehidupan Adat Bali di Desa Penglipuran 

Potret dan suasana kehidupan adat Bali di Desa Penglipuran (Foto: Dok.)

Udara di desa ini sejuk dan bersih. Begitu juga dengan rumah-rumah di desa ini sangat indah dan semua rumah menghadap ke arah yang sama.

Di depan rumah terdapat gerbang tradisional Bali yang disebut angkul-angkul. Jalan utama desa ini juga sangat bersih dan tidak ada mobil atau motor. Oleh karena itu, suasana di desa ini sangat damai.

Di Desa Penglipuran ini sana juga terdapat pura kecil di beberapa sudut desa tempat di mana warga sembahyang setiap hari. Selain itu, sejak dari mereka kecil anak-anak di desa ini juga belajar tentang tradisi seperti membantu orang tua, membuat sesajen, atau ikut membersihkan pura. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Bali diajarkan secara turun-temurun dan dijaga dengan penuh cinta.

Potret kehidupan adat Bali di Desa Penglipuran

Mahasiswa KKN dari Walailak University Thailand saat berkeliling di Desa Panglipuran Bali (Foto: Dok.)

Ketika mengunjungi desa ini, kami, sepuluh mahasiswa Thailand menyewa baju adat Bali. Penulis sendiri memakai sarung,selendang, dan udeng–ikat kepala khas Bali untuk laki-laki. Kami berjalan-jalan berkeliling desa sambil berfoto.

Kami berfoto di depan rumah warga, di taman bunga, dan di tengah jalan yang rapi dan bersih. Setiap sudut di desa ini terlihat indah dan cocok untuk diabadikan. Orang-orang di Desa Penglipuran ini juga sangat ramah. Mereka menyapa kami dengan ramah, bahkan menawarkan diri untuk membantu kami mengambil foto.

Pengalaman memakai pakaian adat membuat kami merasa lebih dekat dengan budaya lokal Bali. Yang paling mengesankan bagi penulis adalah ketika belajar cara memakai sarung Bali dan mengikat udeng dari warga setempat. Interaksi itu sangat menyenangkan dan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Kekaguman lain yang muncul selama mengunjungi tempat ini adalah cara orang di desa ini menjaga budaya dan tradisi. Penduduk di Desa Penglipuran ini masih melestarikan tradisi dengan memakai baju adat setiap hari, membuat sesajen untuk berdoa, mengikuti upacara agama. Penulis melihat mereka menaruh canang di depan rumah yang dilakukan dengan penghormatan tinggi dan hati yang tenang.

Meskipun banyak wisatawan datang, penduduk di desa ini tetap hidup seperti biasa dan tidak berubah hanya karena ada turis.”Menyanangkan bisa melihat suasana desa tradisional. Alamnya indah dan orang-orangnya ramah”, ungkap Jirat Phuangthong, salah satu peserta KKN asal Thailand.

Potret Kehidupan Adat Bali di Desa Penglipuran 

Kebersamaan mahasiswa Walailak University Thailand saat mengunjungi Bali (Foto: Dok.)

Lingkungan di desa ini juga sangat bersih. Tidak ada sampah plastik di jalan. Warga bekerja sama menjaga kebersihan. Kami juga duduk di bale untuk minum teh. Rasanya seperti di alam yang jauh dari kebisingan kota.

“Desa Penglipuran memiliki kebersihan dan tata ruang yang bagus. Terdapat tempat sampah setiap 30 meter dan terdapat saluran air yang baik untuk menjaga kebersihan lingkungan”, tutur Suthiya, salah satu peserta KKN.

Selain itu, Baikhaw, peserta KKN yang lain menambahkan ”Desa Penglipuran mampu menjadi daya tarik wisatawan yang datang. Tidak hanya menikmati suasana desa yang bersih, wisatawan yang datang bisa menjadikan Desa Penglipuran ini sebagai percontohan untuk diterapkan di desa mereka”.

Kita juga bisa menjumpai hutan bambu yang sejuk dan tenang di bagian belakang Desa Penglipuran ini. Kami, mahasiswa Walailak University berjalan ke sana sambil menikmati angin segar dan suara burung. Udara di hutan bambu ini sejuk karena bambu yang tinggi menutupi sinar matahari.

Selain itu, kami juga bisa mendengar suara angin di antara daun bambu dan suara burung. Itu adalah kombinasi alam yang indah dan membuat hati terasa tenang.

Yotha Keawphasuk, salah satu peserta KKN mengatakan, “Perasaan saya saat ke kampung ini adalah asri dan alami. Secara pribadi, saya suka hutan bambu karena memberikan rasa damai dan tenang”.

Intinya, tempat ini benar-benar cocok untuk relaksasi dan menikmati alam.

Penulis sangat senang bisa mengunjungi Desa Penglipuran. Tempat ini sangat indah, tenang, dan budaya Balinya terasa sangat kuat. Berkunjung ke Desa Penglipuran selama mengikuti KKN di Bali adalah pengalaman yang luar biasa.

Secara pribadi, penulis belajar bahwa hidup sederhana bisa membuat kita merasa bahagia. Jika Anda pergi ke Bali jangan lupa mampir ke desa ini. Cobalah memakai pakaian adat, jalan-jalan di desa, dan mengobrol dengan warga lokal. Hal itu pasti akan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan tidak akan terlupakan.

 

Methasit Suthipakdee

Penulis : Methasit Suthipakdee [email protected], Mahasiswa Walailak University Thailand, sedang belajar bahasa Indonesia di UPT PSBBI (BIPA) Universitas Negeri Malang (UM).

 

You may also like