Home NewsKisah Finda Febriana, Penyintas Autoimun yang Lahirkan Haruka Skincare

Kisah Finda Febriana, Penyintas Autoimun yang Lahirkan Haruka Skincare

by Redaksi Hai Malang
0 comments

Haimalang – Haruka Skincare lahir dari cerita panjang penyitas autoimun. Berawal dari rasa frustasi, hingga melahirkan solusi kulit untuk kebutuhan khusus.

Memiliki kulit yang sehat tanpa gangguan tentu menjadi harapan banyak orang. Namun, kenyataannya, tidak semua orang dapat dengan mudah meraih kondisi kulit ideal, terutama mereka yang hidup dengan penyakit autoimun.

Penggunaan obat-obatan jangka panjang sering kali menyebabkan efek samping pada kulit, seperti jerawat parah, iritasi, hingga inflamasi. Kondisi ini dialami langsung oleh Finda Febriana, seorang penyintas autoimun yang kemudian mendirikan Haruka Skincare, brand asal Malang yang diformulasikan untuk kulit sensitif dan rentan masalah akibat penyakit autoimun.

Haruka Skincare Berawal dari Rasa Frustrasi

Finda Febriana Putri adalah penderita Myasthenia Gravis, jenis autoimun yang menyerang saraf dan otot. Kondisinya sempat sangat parah hingga hampir lumpuh total.

“Saya itu penderita autoimun Myasthenia Gravis. Dulu saya nggak bisa berdiri, nggak bisa bangun. Semua harus digendong suami saya. Bayangkan, saya nggak bisa apa-apa,” ujar Finda saat diwawancarai.

Di tengah kondisi fisik yang memburuk, Finda juga harus menghadapi efek samping dari pengobatan yang dikonsumsinya, terutama di wajah.

“Obat-obatnya itu bikin wajah saya penuh jerawat. Saya coba pakai skincare yang dijual bebas, malah tambah parah wajah makin merah, perih, jerawat makin banyak. Saya juga aktif di media sosial, dan saat saya posting foto, malah dibully karena kondisi wajah saya,” kenangnya.

Pengalaman itu menjadi titik balik. Saat merasa putus asa, seorang teman mengirimkan sampel produk dan memberi harapan bahwa Finda bisa menggunakan skincare yang disesuaikan dengan kebutuhannya sebagai penderita autoimun. Ini membuka jalan bagi lahirnya Haruka Skincare.

Skincare yang Diformulasikan Berdasarkan Kebutuhan Khusus

“Saya bilang, saya nggak bisa pakai bahan yang keras. Kulit saya butuh yang lembut dan calming. Ternyata bisa dibuat sesuai kebutuhan saya. Dari situ saya pikir, kenapa nggak saya bantu orang lain juga yang punya kondisi kayak saya?”

Rangkaian Haruka Skincare dikembangkan dengan bahan-bahan alami yang bersifat anti inflamasi, lembut di kulit, dan bebas dari zat aditif berbahaya, seperti paraben, SLS, alkohol, merkuri, dan hidrokuinon. Formulasinya diklaim cocok untuk semua jenis kulit sensitif termasuk penderita autoimun, alergi, bahkan pasien kanker.

Untuk produk produk yang ditawarkan meliputi sabun wajah, toner, serum, sunscreen.

Haruka Skincare

Pekerja melakukan packing produk Haruka skincare di Kota Malang. Ben/Haimalang

Semuanya berbahan dasar air dan menggunakan bahan aktif seperti niacinamide, ekstrak daun pepaya, licorice, cynanchum atratum, serta kappaphycus alvarezii.

“Banyak skincare yang asal-asalan, padahal kulit sensitif itu butuh yang benar-benar gentle. Skincare kami punya efek menenangkan, tidak menimbulkan kemerahan, dan membantu meredakan inflamasi,” kata Finda.

Perjalanan Usaha yang Tumbuh dari Komunitas Pasien

Perjalanan Haruka dimulai dari komunitas kecil sesama penyintas penyakit kronis. “Awalnya saya rekomendasikan ke teman-teman yang juga sakit autoimun, kanker, atau alergi parah. Dari mulut ke mulut, makin banyak yang coba dan cocok. Mereka lalu bantu menyebarkan,” jelas Finda.

Haruka Skincare resmi diluncurkan pada tahun 2021, dan mulai dikenal luas sejak 2022, saat permintaan mulai melonjak. Saat ini, Haruka telah menjangkau lebih dari 40.000 pelanggan dan menjual lebih dari 170.000 produk ke seluruh Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri seperti Hong Kong, Eropa, dan Timur Tengah.

Baca Juga Percaya Jalur Langit, Mulyani Hadi Wijaya Berhasil Membangun Dea Bakery dengan Ratusan Karyawan

Dukungan Suami dan Tekad untuk Tidak Menyerah

Finda mengakui bahwa semua ini tidak akan mungkin terjadi tanpa peran penting Aditya Pratama, suaminya.

“Dia jadi tangan saya, jadi kaki saya. Dulu saat saya nggak bisa jalan, dia yang gendong. Dia percaya saya bisa. Saya cuma punya kemampuan terbatas, tapi saya punya otak, semangat, dan tim yang luar biasa,” katanya dengan penuh haru.

“Saya sudah di titik hampir menyerah. Tapi saya berpikir, kalau saya menyerah, siapa yang akan bantu orang-orang yang seperti saya? Dari situ saya bangkit. Saya yakin, dari rasa sakit bisa lahir sesuatu yang bermanfaat,” tutup Finda.

You may also like